Rabu, 19 Desember 2018
11 Rabi‘ at-akhir 1440 H
Foto: Dok. Thedefenderngr.com
Sukuk kian populer sebagai alternatif investasi yang aman dan menguntungkan. Apa itu sukuk?

Sukuk kian populer sebagai alternatif investasi yang aman dan menguntungkan. Apa itu sukuk?

Di tengah nilai tukar rupiah yang hampir menyentuh angka Rp 15 ribu per-USD dan kondisi bisnis di bidang jasa, manufaktur, dan properti yang sedang mengalami penurunan, sukuk dapat menjadi alternatif investasi yang aman.   

“Beberapa sektor industri saat ini mengalami penurunan yang signifikan. Di antaranya, bisnis retail, properti, dan industri manufaktur. Era digital dan online sangat mempengaruhi sektor usaha. Sukuk bisa jadi alternatif investasi yang jelas lebih menguntungkan bagi para investor," kata Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Rodoni kepada Sharianews.com. (Baca: Sukuk Bisa Jadi Alternatif Investasi di Tengah Perekonomian Indonesia)

Lalu, apa yang dimaksud dengan sukuk? 

Menurut buku "Sukuk Negara: Instrumen Keuangan Syariah (edisi kedua, 2015)" yang diterbitkan Direktorat Pembiayaan Syariah, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementrian Keuangan RI, sukuk merupakan salah satu instrumen pasar modal syariah yang semakin popular seiring pesatnya perkembangan industri keuangan syariah. 

Dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 3/POJK.04/2018 disebutkan, yang dimaksud dengan sukuk adalah efek Syariah berupa sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian yang tidak terpisahkan atau tidak terbagi (syuyu’/undivided share) atas aset yang mendasarinya. 

Lembaga nirlaba internasional yang berdiri pada 1991 dan berbasis di Bahrain, Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI Sharia Standards Nomor 17) mendefinisikan sukuk sebagai sertifikat yang bernilai sama yang merepresentasikan bagian kepemilikan yang tidak terbagi atas suatu aset berwujud, nilai manfaat aset dan jasa, atau atas kepemilikan aset dari suatu proyek atau kegiatan investasi tertentu. Namun demikian hal itu baru dapat diwujudkan setelah berakhirnya proses penerbitan, dan dana hasil penerbitan sukuk mulai digunakan untuk tujuan penerbitan sukuk tersebut.

Sukuk berasal dari bahasa Arab, yang artinya sertifikat atau dokumen. Awalnya, sukuk dikenal sebagai obligasi syariah. Namun, jika ditelaah secara syariah, penggunaan kata obligasi dinilai kurang tepat, karena sukuk berbentuk sertifikat yang mencerminkan bukti kepemilikan aset riil, bukan surat utang. Kemudian disebut sebagai sukuk investasi atau dapat disingkat sukuk. 

Istilah sukuk (juga sakk atau sakaik) dapat ditemukan dalam literatur Islam klasik. Istilah ini berarti suatu sertifikat atau dokumen. Dalam kitab Al-Muwatta’ karya Imam Malik disebutkan bahwa sukuk telah digunakan pada masa pemerintahan Khalifah Al-Marwan ibn Al-Hakam, sejak abad pertama Hijriah atau zaman dinasti Bani Umayyah. Hingga kemudian direformulasikan kembali pada abad 21 masehi sebagai instrumen keuangan syariah.

Lima Karakteristik

Dalam buku "Tanya Jawab Surat Berharga Syariah Negara (Sukuk Negara)" terbitan Direktorat Pembiayaan Syariah, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kemenkeu RI (edisi kedua, 2010) disebutkan, sukuk terdiri dari lima karakteristik.

Pertama, bukti kepemilikan atas aset, hak manfaat, jasa atau kegiatan investasi tertentu. Kedua, pendapatan yang diberikan berupa imbalan, margin, bagi hasil, sesuai dengan jenis akad yang digunakan dalam penerbitan.

Ketiga, terbebas dari unsur riba, gharar dan maysir. Keempat, memerlukan adanya underlying asset penerbitan. Kelima, penggunaan proceeds harus sesuai dengan prinsip syariah.

Sukuk dan obligasi (konvensional) memiliki beberapa perbedaan dasar, yakni: 

 

Sukuk

Obligasi

Prinisip Dasar

Surat berharga yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti kepemilikan/pernyataan terhadap suatu aset yang menjadi dasar penerbitan sukuk

Pernyataan utang tanpa syarat dari penerbit

Underlying Asset

Memerlukan underlying asset sebagai dasar penerbitan

Tidak ada

Fatwa/Opini Syariah

Memerlukan fatwa/opini syariah untuk menjamin kesesuaian sukuk dengan prinsip syariah

Tidak ada

Penggunaan Dana

Tidak dapat digunakan untuk hal-hal yang bertentangan dengan prinsip syariah

Bebas

Return

Berupa imbalan, bagi hasil, margin, capital gain

Bunga, capital gain

Sukuk dapat diklasifikasi ke dalam 14 jenis sesuai akad yang digunakan dalam penerbitan, sebagaimana standar AAOIFI Sharia Standards Nomor 17 tentang investasi sukuk.

Keempat belas jenis sukuk ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar. Yakni, sukuk berbasis akad ijarah/sewa, sukuk berbasis jual-beli/utang/piutang, sukuk berbasis partisipasi atau kerjasama.

Sukuk Berbasis Ijarah

Sukuk Berbasis Jual-Beli

Sukuk Berbasis Kerjasama

1. Sukuk kepemilikan aset berwujud yang disewakan/akan disewakan

2. Sukuk kepemilikan nilai manfaat

    a. Atas aset yang berwujud

    b. Atas aset yang akan             tersedia di masa depan

3. Sukuk kepemilikan jasa

    a. Atas aset berwujud

    b. Atas aset yang akan             tersedia di masa depan

1.      Sukuk Murabahah

2.      Sukuk Salam

3.      Sukuk Istishna

1.      Sukuk Mudharabah

2.      Sukuk Musyarakah

3.      Sukuk Wakalah

4.      Sukuk Muzara’ah

5.      Sukuk Musaqah

6.      Sukuk Mukhabarah

 

Tujuan penerbitan sukuk adalah memenuhi kebutuhan pembiayaan atau pembangunan proyek tertentu. Selain sesuai dengan prinsip syariah, alasan lainnya adalah fleksibilitas dalam pengembangan produk, potensi investor lebih luas, aman, adanya fasilitas perpajakan, potensi besar dana keuangan syariah, dan keterkaitan dengan aset riil. 

Kelebihan berinvestasi sukuk, selain menggunakan instrumen investasi berbasis syariah, juga dapat memberikan imbalan (return) yang kompetitif, memberikan penghasilan yang stabil untuk para investor, dapat diperjualbelikan di pasar sekunder (khususnya untuk ijarah), sehingga berpotensi mendapatkan capital gain. 

Semua pihak, baik individu maupun lembaga/institusi, dapat berinvestasi sukuk. Sukuk, sebagaimana instrumen keuangan konvensional, dapat dibeli siapa saja, dan tidak dibatasi oleh agama atau keyakinan tertentu.

Jangka waktu (tenor) sukuk sendiri bisa untuk jangka pendek, menengah dan panjang sesuai dengan prinsip syariah yang mendasari penerbitannya. Imbalannya (kupon) sukuk dapat bersifat tetap (fixed rate) atau mengambang (floating), sesuai dengan jenis akad dan struktur yang digunakan dalam penerbitan. Biasanya dinyatakan dalam persentase dan dibayarkan secara periodik sesuai ketentuan dan persyaratan penerbitannya. (*)

Reporter: Aldiansyah Nurrahman. Editor: A.Rifki.