Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO | Dok. english.visitseoul.net
Salah satu pusat kegiatan Muslim Korea Selatan adalah Seoul Central Mosque, yaitu masjid permanen pertama bernuansa relatif mewah yang berada di kota Seoul, dibangun pada tahun 1974 dan mulai beroperasi sejak tahun 1976.

Sharianews.com, Korea Selatan. Isu “halal” memang cukup sensitif, apalagi bagi Korea Selatan yang mayoritas penduduknya non Muslim (Budha dan Kristiani), yang mayoritas tidak peduli dan tidak menganggap penting hal tersebut.

Namun geliat promosi halal menjadi peluang bisnis yang harus dipertimbangkan pelaku bisnis di sana, karena saat ini halal telah menjadi lifestyle/gaya hidup yang tidak hanya melulu bicara pada masalah makanan dan minuman, namun juga di berbagai aspek kehidupan.

Karena mayoritas wisatawan mancanegara yang berasal dari Asia Tenggara, khususnya Indonesia kebanyakan beragama  Islam, konsep halal selayaknya sudah harus menjadi barometer baru bagi pelaku bisnis wisata di Korea Selatan supaya bisa tetap eksis.

Meskipun baru merambah sebagian di industri food and beverages khususnya yang merupakan bagian dari industri pariwisata di sana, namun Korea Selatan sudah berusaha memposisikan diri sebagai negara pro-halal lifestyle.

Perlu diketahui, di Korea Selatan sudah ada sekitar 150 perusahaan dari berbagai industri yang mengantongi sertifikasi halal.  Proses sertifikasi halal di Korea Selatan dilakukan oleh organisasi bernama Korean Muslim Foundation (KMF). Lembaga ini telah diakui oleh lembaga sertifikasi makanan Malaysia, JAKIM.

Selain itu, Pemerintah Korsel kini juga berupaya mendapatkan pengakuan dari Indonesia melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI), Arab Saudi melalui ESMA, dan Singapura melalui MUIS. Untuk memenuhi kebutuhan para pengusaha Korea yang ingin mengajukan sertifikasi halal, LPPOM MUI bekerja sama dengan Ini Halal Korea membuka sebuah kantor representatif di negara tersebut.

Gairah meramaikan industri halal

Gairah untuk meramaikan industri halal semakin terlihat dengan munculnya, tidak kurang dari 150 perusahaan makanan di Korea Selatan yang memproduksi sekitar 500-an makanan halal berbagai jenis. 

Beberapa di antaranya dijual di berbagai gerai “ramah Muslim” baik di pusat kota (misalnya daerah Itaewon, Seoul) maupun daerah tujuan wisata seperti misalnya, di Pulau Nami. Dengan demikian, kita tidak perlu lagi khawatir mencari makanan halal di Korea Selatan, karena setiap saat kita bisa browsingvia internet.

Menggeliatnya kehidupan Muslim Korea Selatan dan sosialisasi halal di berbagai sektor tidak lepas dari keberadaan masjid yang merupakan pusat kegiatan masyarakat Muslim Korea Selatan. Selain sebagai tempat ibadah, masjid juga menjadi pusat informasi bagi warga Korea Selatan dari kalangan mana saja yang ingin belajar Islam.

Masjid-masjid di Korea Selatan menyediakan bahan-bahan bacaan dan audio yang diberikan gratis buat mereka yang ingin mempelajari Islam. Inilah salah satu wujud misi Islam yang ingin menyebarkan kebaikan bagi umat manusia dari kalangan mana saja.

Bahkan, Pusat Kebudayaan Islam di Seoul telah didirikan sejak tahun 2006 untuk mendukung syiar Islam sekaligus meluruskan berbagai informasi bias mengenai Islam dan Muslim yang diterima oleh masyarakat di negeri ini. Masjid ini selain menjadi tempat tujuan wisata, terutama bagi wisatawan Muslim yang ingin mencari referensi tentang sejarah Islam dan toleransi beragama di Korea Selatan.

Seoul Central Mosque

Salah satu pusat kegiatan Muslim Korea Selatan adalah Seoul Central Mosque, yaitu masjid permanen pertama bernuansa relatif mewah yang berada di kota Seoul, dibangun pada tahun 1974 dan mulai beroperasi sejak tahun 1976. Masjid ini di terletak Jalan Usadan, Distrik Yongsan di Seoul yang bisa dicapai  dengan cara naik Subway Line 6 ke Itaewon Station (Exit 3). Dari pintu keluar, kita bisa berjalan lurus sekitar 110 meter dan belok kanan ke Usadan-ro, dilanjutkan berjalan 170 meter dan belok kiri menuju Usadan-ro 10-gil dilanjutkan berjalan 200 meter untuk mencapai masjid yang posisinya berada tepat di sebelah kiri.

Seoul Central Mosque memiliki tiga lantai, yang memiliki fungsi berbeda. Di lantai pertama terdapat kantor Federasi Muslim Korea dan ruang pertemuan, sedangkan ruang shalat berada di lantai dua dan tiga. Di tempat ini juga dibangun sebuah madrasah yang dijadikan sebagai lembaga pendidikan Islam bagi anak-anak, Pusat Penelitian Kebudayaan Islam dan Organisasi Islam lainnya.

Tanah tempat masjid ini berdiri merupakan tanah yang tinggi seperti bukit, sehingga untuk masuk ke dalamnya kita harus menapaki sejumlah anak tangga. Dari halaman masjid, terhampar pemandangan kota serta sungai Han.

Karena pemandangan yang indah tersebut, pengunjung masjid bukan hanya umat Muslim yang menunakan ibadah saja, tetapi juga warga Korea Selatan yang ingin melihat keindahan masjid serta keindangan pemandangan tepi sungai Han (Han-gang) yang alirannya bermuara ke Laut Kuning.

Selanjutnya agar pengunjung menghargai umat Muslim yang berdoa di dalamnya, maka di bagian depan pintu masuk masjid diberi sebuah peringatan tata cara berbusana yang sopan untuk masuk ke masjid.

Perlu diketahui bahwa dana pembangunan masjid ini diperoleh dari donasi bersama pemerintah Korea Selatan dan Arab Saudi, di mana pemerintah Korea Selatan mendonasikan lahan seluam 5.000 meter persegi, sedang uang pembangunan masjid berasal dari “patungan” negara-negara Islam.

Sebelum masjid ini dibangun, Korean Muslim Federation (KMF) sering mengadakan shalat berjamaah di daerah ini. Saat itu jumlah penduduk Muslim di Korea Selatan masih sekitar 3.000 jiwa saja, tidak sebanyak seperti saat ini.

Distrik Itaewon bermukim expatriate Muslim

Di daerah sekitar Seoul Central Mosque, yaitu di Distrik Itaewon bermukin expatriate Muslim, pebisnis dari Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan. Kebanyakan dari mereka membuka usaha restoran, café dan minimarket, souvenir, hingga rempah-rempah atau bahan masakan ala Timur Tengah dan Asia Selatan bagi yang merindukan masakan  dari daerah asal mereka.

Rata-rata pemiliknya berasal dari Timur Tengah atau negara Islam lainnya, termasuk Indonesia (ada satu restoran Indonesia bernama Siti Sara, yang lumayan terkenal di kalangan wisatawan Indonesia), termasuk juga Murree Muslim Food serta Kervan, restoran kebab Turki cabang Itaewon yang sangat diminati oleh para wisatawan, terbukti dari waiting list pengunjung yang ada setiap harinya. Mereka menawarkan makanan halal dengan harga relatif terjangkau bagi wisatawan.

Misalnya sajadi Restoran Muree, menu Bimbibab berharga 8.000 KRW per porsi (1 KRW = Rp 14); sementara harga Bulgogi 1 porsi 15.000 KRW. Porsinya pun cukup mengenyangkan untuk perorangan. Di Restoran Kervan, seporsi menu Chicken Shish Kebab atau Mix Sish Kebab harganya 21.000 KRW, namun dengan ukuran besar, satu porsi menu bisa untuk dua orang.

Menariknya, di tiap restoran halal selalu dilengkapi dengan mushola yang cukup nyaman dan bersih (biasanya terletak di lantai atas restoran) sebagai salah satu daya tarik bagi wisatawan. Bisa dikatakan bahwa kehadiran masjid di Seoul terbukti membawa denyut nadi perekonomian dan pusat komersial di jantung Korea Selatan

Seoul Central Mosque menjadi benchmark masjid dan pusat kegiatan masyarakat Muslim Korea, karena setelah itu, sejumlah masjid juga dibangun di sejumlah wilayah di Korea lainnya, antara lain di wilayah Gyeonggi dan Incheon.

Banyak dijumpai selebgram berhijab dari Asia Tenggara termasuk Indonesia yang membantu mempromosikan secara langsung keindahan masjid ini melalui media sosial. Biasanya mereka merasakan shalat di tempat tersebut kemudian melakukan wawancara dengan takmir masjid dan pengurus Yayasan yang ada di masjid tersebut.

Kita patut belajar dari usaha keras Korea Selatan yang ikut mengangkat pamor halal lifestyle meskipun diakui tidak mudah. Hal ini sekaligus patut menjadi inspirasi bagi Indonesia, yang mayoritas penduduknya adalah Muslim untuk selalu mendukung sosialisasi halal di mana pun kita berada. (*)

Oleh: Nastiti Tri Winasis