Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
Bagi investor pemula yang ingin berinvestasi di pasar modal syariah mesti belajar dan memahami terlebih dahulu aturan main dalam investasi, tujuan, dan juga arahnya.

Sharianews.com, Jakarta. Industri pasar modal syariah di Indonesia terus berkembang. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 29 Juni 2018, total asetnya Rp 661,71 triliun dengan tingkat market share 15,28 persen.

Dari jumlah market share sebesar itu, pasar modal syariah masih sagat potensial untuk tumbuh menjadi instrumen investasi menjanjikan bagi para investor. Pasar modal syariah memiliki beberapa instrumen investasi seperti sukuk ritel negara, saham syariah, hingga reksa dana syariah.

Apakah Anda tertarik untuk berinvestasi?  Pengamat ekonomi Islam, Agus Yuliawan mengatakan bagi pemula yang ingin berinvestasi di pasar modal syariah mesti belajar dan memahami terlebih dahulu aturan main dalam investasi, tujuan, dan juga arahnya.

Aturan main tersebut yang pertama adalah memahami risikonya terlebih dulu. Setelah itu, baru baca laporan keuangan dari emiten yang ingin kita beli. Bisa lihat dari performa perusahaannya, kira-kira sesuai tidak dengan target  keuangan kita. 

Untuk itu, penting bagi investor pemula membaca cashflow perusahaan; seperti apa dan berapa profitnya setiap tahun. Data-data terkait dengan  hal tersebut tersedia di Bursa Efek Indonesia, yang biasanya selalu memberikan kelas rutin bagi investor, salah satunya  terkait dengan bagaimana cara membaca laporan keuangan.

Selain itu, investor juga harus mengetahui target keuangannya. Misalnya, untuk mempersiapkan dana pendidikan anak yang kenaikan biayanya bisa mencapai 15 persen, maka harus mencari tahu perusahaan mana yang sekiranya dapat memberikan return setara atau melebihi inflasi biaya pendidikan.

“Jadi jangan langsung, sekonyong-konyong melakukan investasi tanpa mengetahui kondisi dana atau modal yang dimiliki serta orientasinya. Sebagai investor ada beberapa prinsip yang harus dipahami. Yang terpeing adalah prinsip-prinsip seperti  high risk, high return, and low risk, low return,”jelas Agus Yuliawan, kepada sharianews.com, Selasa (11/9/2018).

High risk, high return artinya semakin tinggi resiko dari sebuah jenis investasi, semakin besar pula jumlah keuntungan yang mungkin diperoleh. Sementara, low risk, low return kebalikannya. Maknanya adalah risiko rendah, imbal investasi rendah.

Agus juga menjelaskan saat berinvestasi, jika ingin memperoleh keuntungan yang besar, bermain di saham. Tetapi jika ingin bermain aman dan untungnya sedang-sedang saja, ambil reksadana atau obligasi syariah seperti sukuk. 

Jadi, sebelum bermain di pasar modal  ada beberapa hal yang harus disadari. Pertama, kita harus mengetahui tujuan investasi, Kedua, dana dan modal yang kita miliki. “Ketiga investasi tersebut untuk waktu berapa lama? Jangka pendek, menengah, atau panjang,”katanya.

Hal lain yang harus disadari adalah sebelum memutuskan investasi, terlebih dahulu membaca dan mempelajari literasi pasar modal syariah.

Lebih lanjut, Agus mengatakan agar aman, banyak belajar dan mempelajari  beberapa perusahaan sekuritas atau pialang yang menawarkan diri dalam mengelola dana-dana invesatasi untuk di investasikan di capital market atau pasar modal.

“Di sini, para pemula bisa sambil belajar bagaimana menjadi pelaku di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan berinteraksi tentang seluk-beluk bisnis pasar modal. Lama kelamaan akan mahir sendiri dalam jual dan membeli saham,”katanya. “Juga dalam menentukan jenis saham-saham apa yang menarik untuk di beli dan dilepas,”Agus menambahkan.

Selanjutnya hal yang harus dipahami adalah jenis investasi apa yang akan di pilih. Misalnya investasi jangka pendek.  Untuk investasi jangka pendek, bagi investor pemula lebih disarankan untuk memilih produk yang berisiko minim. Salah satunya melalui sukuk (surat utang syariah). Produk ini bisa jadi salah satu alternatif investasi syariah yang cukup menguntungkan, terutama bagi yang tertarik berinvestasi dalam jangka menengah.

Sementara, bagi investor yang ingin menanamkan modal dalam jangka panjang, investor pemula bisa memilih saham dan reksadana syariah. Hasil imbal hasil dari kedua instrumen ini dianggap cukup menguntungkan dibandingkan investasi dalam bentuk emas.

Jika masih gamang, para pemula bisa memulai dengan hal sederhana. Misalnya dengan menabung untuk jangka waktu enam bulan ke depan. Dana ini bisa dianggap sebagai cadangan fiskal. Di mana kebutuhan pengeluaran dalam beberapa bulan ke depan sudah dipersiapkan dengan matang sebagai pondasi awal.

Selanjutnya, disarankan agar setiap investor yang ingin berinvestasi mulai banyak menyerap informasi. Termasuk mempertimbangkan risiko dari setiap instrumen yang akan dipilih nantinya. Sehingga saat memutuskan berinvestasi jangka pendek, menengah, atua jangka panjang, tidak terlalu kaget melihat pergerakan pasar modal yang biasanya sangat fluktuatif. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Ahmad Kholil