Senin, 18 Februari 2019
13 Jumada al-akhirah 1440 H
FOTO | Dok. Emha sharianews.com
Banyak masyarakat takut memanfaatkan asuransi syariah karena mereka mengira hal itu bertentangan dengan agama.

Sharianews.com, Jakarta. Untuk meningkatkan literasi asuransi syariah masyarakat muslim yang masih kecil, kalangan praktisi perlu melibatkan para muballigh atau penceramah agama. Hal itu disampaikan oleh Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat, Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH M Cholil Nafis beberapa waktu lalu kepada sharianews.com usai mengisi kegiatan pengajian mingguan di Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok (29/9/2018).

Menurutnya pelibatan para muballig atau penceramah agama penting dalam membantu meningkatkan dan membenahi literasi asuransi syariah karena masih ada keengganan masyarakat menggunakan asuransi syariah, yang umumnya didorong atas kekeliruan pemahaman agamanya.

“Misalnya, banyak masyarakat takut memanfaatkan asuransi syariah karena mereka mengira hal itu bertentangan dengan agama, khususnya agama Islam, yakni menentang takdir atau sebagian juga ada yang memahami bahwa asuransi syariah mengandung gharar (ketidakjelasan) yang dilarang dalam prinsip ekonomi Islam,”ujarnya.

Padahal, asuransi syariah telah sesuai dengan tata aturan Islam, yaitu gotong-royong membantu sesama atau at-ta’awun. Lebi lanjut, menurutnya, asuransi syariah juga sudah melewati pengkajian serius oleh MUI dan Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI, yang tertuang dalam Fatwa No. 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syari’ah.

“Selain itu, untuk mengawasi aktivitas kesyariahan asuransi, DSN MUI juga menempatkan Dewan Pengawas Syariah (DPS) pada institusi atau perusahaan yang membuka jasa asuransi syariah. Oleh karena itu, asuransi syariah dijamin telah selaras dengan nilai Islam,”sambung Kiyai Cholil, sapaan akrab KH M Cholil Nafis.

Jalin mitra sosialisasikan asuransi syariah

Sementara upaya lainnya, lanjut Cholil, ialah menjalin mitra dengan banyak pihak untuk mensosialisaikan seperti apa dan bagaimana implementasi asuransi syariah itu harus dijalankan.

“Dalam hal itu kami di MUI telah bekerjasama dengan institusi pendidikan seperti pesantren dan perusahaan seperti AXA Mandiri. Untuk kerjasama dengan yang terakhir ini sudah berjalan selama tiga tahun, antara lain, pada tahun ini akan membuat kegiatan loka karya asuransi syariah, seminar, dan lain sebagainya di 10 propinsi,”terangnya.

Hasil kolaborasi dengan berbagai pihak tersebut, setiap tahunnya literasi masyarakat terhadap asuransi syariah meningkat lebih dari sekitar 5 persen. Meski masih jauh dari besaran potensinya, tapi menurut lulusan Universitas Malaya ini, situasi itu menjukkan gejala tren yang positif.

Sejalan dengan pemaparan Cholil, berdasar data dari Roadmap Institusi Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah 2015-2019 oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), disebutkan terliat ada kecenderungan tumbuhnya literasi asuransi syariah diikuti oleh semakin membaiknya inklusi asuransi syariah. Tercatat, pertumbuhan rata-rata aset industri asuransi syariah mencapai 36,22 persen.

Meski begitu menurut data OJK, pangsa pasar (market share) aset industri asuransi syariah itu hanya berada di kisaran angka 5 persen jika dibandingkan dengan total aset bisnis perasuransian di Indonesia.

Inilah, kemudian, yang menjadi tantangan besar bagi setiap pihak yang berkepentingan agar lebih mengembangkan bisnis asuransi syariah. (*)

Reporter: Emha S. Asror. Editor: Ahmad Kholil