Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H

Kehalalan Gadai Emas

Senin, 3 Desember 2018 10:12
FOTO | Dok. istimewa
Bagaimana hukum gadai emas di perbankan syariah? Apakah akadnya sesuai dengan kaidah syariah dan terjamin kehalalanya? Ini dia penjelasannya!

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang terhormat, Ustadz Ahmad Ifham Sholihin. Saya mau tanya. Dosen saya yang mengajar mata kuliah ushul fiqih meragukan kehalalan produk gadai emas di bank syariah.

Yang beliau permasalahkan adalah ketika nasabah tidak sanggup membayar, maka nasabah harus menghibahkan emasnya kepada pihak bank. Beliau bilang itu zhalim. Bagaimana argumen yang tepat untuk menjelaskan hal tersebut ustadz? Yang insya Allah nantinya bisa saya sampaikan.

Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi, wabarakatuh.

Shiddiq, tinggal di Jogjakarta.

Jawab: 

Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Sdr. Shiddiq yang dicintai Allah, semoga kita semua selalu berlimpah barakah dari Allah agar kita bisa konsisten bertransaksi keuangan hanya di Lembaga Keuangan Syariah saja. Amin.

Gadai Emas Syariah terjadi dengan alur Konsumen menggadaikan Emas di Lembaga Keuangan Syariah (LKS) seperti Pegadaian Syariah atau Bank Syariah atau Koperasi Syariah. Setelah itu, emas ditaksir sehingga ketemu nilai taksiran. Dari nilai taksiran tersebut, LKS menentukan biaya jual beli manfaat tempat penyimpanan dan jasa penjagaan agunan emas.

Selanjutnya Konsumen mendapatkan Pinjaman dari LKS. Pinjaman ini sejumlah uang dengan nominal tertentu yang harus dikembalikan sesuai dengan jumlah uang yang dipinjam Konsumen.

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa jumlah uang yang harus dibayarkan Konsumen adalah senilai pinjaman ditambah dengan senilai harga jual beli manfaat atas pemeliharaan agunan.

Skema ini halal karena tidak menabrak larangan laa yahillu salaf wa bay' (tidak halal ada pinjaman dan jual beli) oleh karena tidak ada skema riba dalam pinjaman yakni ketika ada pinjaman bersyarat aliran manfaat bagi pinjaman. Selain itu, akad intinya adalah akad gadai yang menghadirkan transaksi jual beli manfaat, bukan akad pinjaman.

Sebagaimana kelaziman transaksi gadai, ada pengikatan agunan dengan skema gadai yang artinya adalah Konsumen sukarela menyerahkan agunan emas diproses untuk memenuhi kewajibannya jika ia tidak melakukan pembayaran atas hutangnya. Kesediaan Konsumen ini dibuktikan dengan tanda tangan dokumen yang sudah dibubuhkan.

Tentu saja tidak serta merta agunan emas dieksekusi begitu saja, pasti ada kesempatan bagi Konsumen untuk menebus emasnya dengan tetap melakukan pembayaran atas hutangnya. Jika Konsumen benar-benar tidak melakukan pembayaran, maka emas dijual.

Jika hasil penjualannya melebihi jumlah hutang, maka kelebihannya dikembalikan kepada Konsumen. Jika hasil penjualannya kurang dari jumlah hutang, maka Konsumen tetap wajib membayar kekurangannya.

Berdasarkan pada skema tersebut bisa disimpulkan bahwa sangat wajar ketika agunan emasnya diserahkan Konsumen kepada LKS untuk diproses memenuhi kewajiban Konsumen. Hutang itu harus dibayar. Skema gadai syariah, ya lazimnya memang begitu. Tidak ada dalil larangan yang dilanggar dalam skema gadai emas syariah. Jadi, LKS tidak zhalim.

Skema gadai ini diberlakukan juga dalam rangka memenuhi kaidah adhdhararu yuzaalu (bahaya itu harus dihilangkan). Jika tidak ada agunan dan Konsumen tidak melakukan pembayaran, ini membahayakan Konsumen karena berarti Konsumen melawan perintah Allah dalam Alquran Surat al Maidah ayat 1 yakni perintah untuk memenuhi akad/kontrak.

Buat Konsumen, agar agunan emasnya tidak diproses eksekusi, bayarlah kewajiban. Wallahu a'lam.

Sharia Corner | Diasuh oleh: Ustadz Ahmad Ifham Sholihin