Senin, 18 Februari 2019
13 Jumada al-akhirah 1440 H
 “Jadi untuk menjadi muslimah yang luar biasa mulailah membangun visi dan potensi kita apa yang bisa kita berikan untuk keluarga, masyarakat. Dan jangan lupa untuk selalu menjaga, membangun iffah dan izzah nya,” ungkap Ita.

Sharianews.com, Depok. Nilai seorang perempuan dilihat melalui dua hal, yakni izzah dan iffah. Izzah yang merupakan kemuliaan, kehormatan dan harga diri tercantum dalam kitab suci Al Qur'an surah Al Munafiqun ayat delapan. Sedangkan iffah yang berarti cara menjaganya atau menahan diri dari perkara-perkara yang diharamkan Allah SWT. Hal tersebut tercantum dalam surah An-Nuur ayat 33.

"Kedua hal tersebut sangat penting dimiliki, bahwa perempuan tidak akan punya nilai ketika tidak memiliki izzah dan iffah," kata Ita Roihana, selaku Kepala Sekolah Bridetalks, Advisory Council ASEAN Young Leaders Forum, serta Best Female Participant LPDP PK 3 dalam launching Gebyar Muslimah, pada hari sabtu (23/12) di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI.

Launching dalam rangka menjaga sebuah izzah, seorang perempuan dapat memulainya dengan memperbaiki ibadah dan meningkatkan kualitasnya agar senantiasa dekat dengan penciptaNya. Dengan kedekatan seperti itulah secara otomatis akan terbangun harga dirinya. Selain itu, menjadi cerdas merupakan pilihan yang harus diusahakan bagi setiap perempuan.

Bersama kecerdasan itulah yang menjadi dasar untuk bertindak bijak dalam membedakan benar dan salah. Langkah selanjutnya bagi perempuan ialah agar terbiasa dalam menciptakan lingkungan amar ma’ruf nahi munkar atau menjalankan yang baik dan menjauhkan yang buruk dalam setiap kondisi kehidupan. Serta rajin meminta nasihat dan berdoa, selebihnya tidak diperkenankan untuk berputus asa dengan rahmat Allah.

Dalam pemaparannya yang bertajuk “Being a Wonderful Women” tersebut, Ita memberikan contoh perempuan-perempuan zaman dahulu yang selalu menjaga izzah dan iffahnya sebagai muslimah sehingga mendapatkan kemuliaan disisi TuhanNya. Aisyah ra. Misalnya, kecerdasannya tidak lagi dimungkiri sebagai perawi hadis Rasulullah SAW terbanyak dan sering menjadi rujukan para sahabat nabi kala itu.

Kemudian kisah Ummu Aiman yang diberikan air oleh Allah dari langit, Ummu Sulaim yang dengan ketegaran dan itsar atau mendahulukan saudara di atas dirinya membuat Allah takjub kepada keluarganya. Dan banyak lagi kisah perempuan yang dimuliakan Allah karena penjagaannya atas izzah dan iffah.

Namun, menjaga izzah dan iffah muslimah di masa kini cukup memberikan tantangan. Sebagai contoh dengan bermunculnya fashion gaul yang tidak syar’i bahkan cederung terbuka dan membentuk lekuk tubuh. Disebut pula sebagai tantangan berikutnya adalah gaya hidup hedonis atau menjadikan kesenangan dunia sebagai prioritas, yang seringkali memengaruhi milenial saat ini.

Bahayanya, ketika terlalu akrab dengan lingkungan hedonism, bisa menjadikan seseorang menganggap setiap kebiasaan burukya menjadi sebuah pembenaran dengan dalih sudah biasa terjadi. Sebagai contoh komunikasi perempuan dan laki-laki yang tidak dijaga bahkan mendekatkan pada nafsu, serta pergaulan bebas dan hura-hura lainnya. Sehingga, secara perlahan tanpa disadari dapat menurunkan harga diri atau kehormatan seorang perempuan.

Dengan tantangan demikian, Ita Roihana berbicara tetang visi yang harus dimiliki. Di mana visi tersebut dibangun untuk mendekatkan diri dengan sang penciptaNya. Dalam kata lain, Menjaga dan memuliakan diri sebagai perempuan dengan memperbaiki serta meningkatkan kualiatas ibadah terlebih dahulu.

 “Jadi untuk menjadi muslimah yang luar biasa mulailah membangun visi dan potensi kita apa yang bisa kita berikan untuk keluarga, masyarakat. Dan jangan lupa untuk selalu menjaga, membangun iffah dan izzah nya,” ungkap Ita. (*)

 

Reporter: Fathia Rahma Editor: Achi Hartoyo