Minggu, 17 Februari 2019
12 Jumada al-akhirah 1440 H
Riset eksploratif skala kecil terhadap 30 perwakilan milenial di Jakarta menghasilkan indikasi temuan  menarik bahwa “kepedulian terhadap sesama” menjadi salah satu bagian penting dari halal lifestyle ala milenial.

“Ketika kamu bersedekah, ulurkan tangan kananmu dan sembunyikan tangan kirimu”.

Begitulah cuplikan dari Hadits Riwayat Muslim yang cukup populer. Namun bagaimana dengan kondisi saat ini? Mungkinkah telah telah terjadi paradoks di kalangan milenial, bahwa sedekah yang efektif harus diekspose sebagai bentuk menularkan kebaikan?

Arti ‘Peduli’ ala Milenial

Generasi milenial masih sering dipandang sebelah mata oleh generasi sebelumnya (akibat sebagian besar hidupnya didedikasikan di dunia maya), khususnya dalam hal kepedulian terhadap sesama.

Ternyata tidak selamanya milenial itu apatis dan acuh tak acuh. Bahkan, mereka mampu menggerakkan orang-orang di sekitarnya untuk peduli terhadap sesamanya melalui hal-hal kecil yang kelihatan sepele.

Bagaimana supaya gerakan mereka impactful dan menular? Tentu saja sosialisasi melalui media sosial. “Membuat sungkan atau malu jika tidak ikut terlibat dalam kepedulian terhadap sesama” kadang-kadang juga menjadi agenda atau misi terselubung dalam rangka menggerakkan masyarakat untuk berbagi.

Riset eksploratif skala kecil terhadap 30 perwakilan milenial di Jakarta menghasilkan indikasi temuan  menarik bahwa “kepedulian terhadap sesama” menjadi salah satu bagian penting dari halal lifestyle ala milenial.

Kepedulian di sini mengandung beberapa unsur sederhana namun penting, yaitu: berbaik hati, berbelas kasih, mengucapkan terima kasih, memaafkan orang lain, serta membantu orang lain yang membutuhkan.

Unsur-unsur ini juga mengemuka saat Josephson Institute of Ethics meneliti mengenai unsur-unsur “care” pada manusia. Jika dijabarkan, maknanya cukup luas, di mana:

  1. “Berbaik hati” di sini dikaitkan dengan bagaimana merawat hubungan baik dengan orang lain secara tulus, menginginkan yang terbaik untuk mereka, memahami kebutuhan dan keinginan, harapan dan kecemasan mereka. Kebaikan juga dikaitkan dengan kehangatan, belas kasih, setia dan berterima kasih pada bantuan orang lain.
  2. “Berbelas kasih” di sini menunjukkan bahwa kita peduli. Salah satu indikator kedewasaan seseorang adalah kemampuannya untuk berpikir dan peduli terhadap orang lain selain diri-sendiri (empati).
  3. “Mengucapkan terima kasih” harus menjadi kebiasaan sehari-hari, di samping selalu bersyukur; siap untuk menunjukkan penghargaan terhadap orang lain. Mengekspresikan rasa syukur adalah awal dari kesopanan, kemurahan hati dan kepedulian terhadap orang lain.
  4. “Memaafkan orang lain” dengan cara berhenti merasa marah atau kesal terhadap orang lain atas kesalahan yang mereka perbuat. Alangkah lebih baik jika bisa membantu dan mendukung mereka dalam memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat.
  5. “Membantu orang lain yang membutuhkan” (berbagi) dengan meluangkan waktu dan menunjukkan  kemampuan/keahlian yang kita miliki untuk membantu orang lain. Berbagi menjadi ciri orang yang efektif dalam kehidupannya. Poin ini diidentikkan dengan “sedekah”.

Dari lima elemen Peduli tersebut, “membantu orang lain yang membutuhkan” menjadi kegiatan paling berdampak signifikan bagi milenial untuk menularkan kebaikan nyata bagi orang lain.

Sedekah: Elemen Utama Kepedulian terhadap Sesama

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata “sedekah”?

Selama ini  “sedekah” nyaris selalu diidentikkan memberikan sejumlah uang kepada mereka yang membutuhkan.

Namun demikian, bagi milenial, sedekah yang merupakan elemen penting dari kepedulian mereka terhadap sesama bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk, meskipun uang – baik diberikan secara tunai maupun transfer dan/atau autodebit – masih menjadi prioritas pertama.

“Sedekah secara sembunyi-sembunyu untuk menghindari riya’ (pamer) merupakan suatu tindakan mulia. Namun bagaimana dengan generasi Milenial yang satu karakter menonjolnya adalah bahwa “sharing/berbagi itu cool/keren”? Bagaimana jika yang dilakukan adalah sharing/berbagi informasi mengenai kegiatan bersedekah?

Yang menjadi isu utama adalah “kekerenan karena kita telah bersedekah” yang kemudian diekspose ke media sosial supaya diketahui orang banyak. Mungkin kita sudah sering melihat Milenial meng-upload foto atau video mereka ketika sedang “berbagi” kepada orang lain yang membutuhkan.

Sepintas buat generasi sebelumnya, perilaku ini mungkin dianggap riya’, karena mengekspose kebaikan supaya dipuji orang lain. Padahal, di jaman sekarang mungkin telah terjadi paradoks.

Exposure di dunia maya ternyata tidak semata-mata supaya eksis, namun dalam konteks berbagi (misalnya sedekah) nyatanya bertujuan untuk mengetuk hati sesama milenial untuk melakukan hal yang sama.

Inilah dampak positif sesungguhnya dari keterlibatan milenial dalam konteks menularkan kebaikan di masyarakat melalui media sosial.

Lalu, bagaimana dengan skala prioritas penyaluran sedekah dalam bentuk nominal (uang tunai/transfer) di kalangan Milenial? Infografis berkut ini menunjukkan indikasi temuan yang menarik:

Sementara itu, jika dalam kondisi keuangan terbatas namun tetap ingin melakukan kegiatan sedekah, Milenial akan mencari berbagai cara yang dianggap impactful sehingga layak “ditularkan”  ke orang lain melalui media sosial, minimal kepada peer group-nya.

Beberapa kegiatan menarik dalam rangka sedekah non nominal kadang-kadang bisa menginspirasi produsen produk atau jasa tertentu, dan menjadikan sosok milenial sebagai agen perubahan, misalnya:

  1. Donor Darah, bisa dilakukan secara sukarela dengan secara teratur mendatangi Kantor PMI (Palang Merah Indonesia), tanpa perlu menunggu waktu adanya even tertentu.
  2. Berbagi nasi bungkus, baik dilakukan setiap hari minimal satu porsi kepada mereka yang layak membutuhkan, maupun pada hari khusus misalnya Jumat setelah salat Jumat, sambil berburu pahala Jumat. Berbagi nasi bungkus ini bisa menginspirasi produsen bahan makanan tertentu untuk melakukan hal yang sama dengan melibatkan kaum milenial.
  3. Menyumbang mukena atau sandal wudu di masjid, dilakukan khususnya di masjid-masjid yang berlokasi dekat tempat tinggal. Kegiatan ini juga banyak menginspirasi UKM-UKM yang memasarkan produk mukena atau sandal masjid secara online untuk bekerjasama dengan milenial, dengan misi “membeli sambil bersedekah”.
  4. Mencuci mukena dan memberikan pengharum, membersihkan karpet masjid beserta tempat wudu, dilakukan secara insidental, dan telah banyak menginspirasi produsen produk-produk pembersih dan menjadikan Milenial sebagai motor penggerak serta figure utama yang ditonjolkan dalam kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility)
  5. Membantu kebutuhan bulanan “orang kecil”, dengan cara melebihkan jumlah barang yang dibelanjakan bulanan, misalnya sembako, untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Orang terdekat misalnya para janda miskin di sekitar tempat tinggal kita atau Asisten Rumah Tangga sekali pun.
  6. Tidak menawar dagangan Pedagang Kecil, malahan sebaliknya lebihkan membayarnya. Perjuangan Pedagang Kecil yang berangkat berdagang dari Subuh hingga matahari terbenam demi sesuap nasi layak dihargai.
  7. Sedekah makanan kecil, jika di sekitar rumah sedang ada kegiatan tertentu misalnya perbaikan jalan raya, pembangunan fasilitas umum atau lainnya. Para tukang atau kuli bangunan yang bekerja bisa kita jamu dengan makanan kecil dan minuman.
  8. Memberi tumpangan pada teman yang akan bepergian ke tujuan yang searah dengan kita, ketika kita membawa kendaraan pribadi.

So, “peduli ala milenial” bisa dilakukan dengan cara apa saja tanpa harus menunggu kaya. Jika semua memiliki kebiasaan baik ini dan ditularkan kepada orang lain, terbayang kan, betapa banyak kebaikan yang terjadi setiap harinya!

 

oleh: Nastiti Tri Winasis