Rabu, 19 Desember 2018
11 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO | Dok. arif.sharianews.com
Mengajak keterlibatan Gen-Y secara langsung dalam pendistribusian zakat misalnya, akan menumbuhkan ikatan jangka panjang antara lembaga zakat dan milenial itu sendiri.

Sharianews.com, JakartaSalah satu karakter genarasi milenial ( Gen-Y) adalah mereka lebih menyukai tantangan. Inginnya terjun langsung ke lapanga alias tidak suka wakil-mewakilkan. Karena itu, strategi yang tepat untuk mengajak milenial berkontribusi di bidang zakat adalah dengan mengajak mereka langsung mendistribusikan zakatnya ke daerah-daerah terpencil atau dalam bentuk kegiatan lainnya.

Demikian dikatakan oleh Yuswohady, Chief Excecutive Markplus of Institute Marketing, dalam kesempatan talkshow bertajuk ‘Milenial, Lifestyle, dan Zakat,  yang digelar Dompet Dhuafa di Bakso Boedjangan, Pejaten, Jakarta Selatan, Rabu (5/12/18).

Lebih lanjut Yuswohady mengatakan, mengajak keterlibatan Gen-Y secara langsung akan menumbuhkan sebuah ikatan jangka panjang antara lembaga zakat dan milenial itu sendiri, karena mereka jadi tahu secara langsung apa yang terjadia di lapangan, sehingga timbul rasa peduli (engagement) terhadap permasalahan zakat.  

Sebab ketika mereka terlibat langsung dalam kegiatan, maka bukan hanya akan mendapatkan kepuasan dan pengalaman, tetapi juga kenyamanan serta kesan positif,  yang pada akhirnya berubah empati dan peduli, sehingga mereka merasa terpanggil untuk mengajak orang lain ikut berpartisipasi.

Itu mengapa sering dikatakan bahwa referensi generasi milenial saat ini adalah ‘kenyamanan’ bukan lagi soal ‘wah’, Dengan begitu menjadi penting untuk, “Dipikirkan bagaimana caranya membentuk experience yang menawarkan kenyamanan dan bagaimana caranya agar mereka merasakan  tertantang atau ada challenge,”ujarnya.

Menurut Yuswohady, dari titik inilah poin yang dimaksud dengan upaya menjadikan zakat sebagai gaya hidup dan menularkannya pada orang lain. Apalagi jika melihat karakteristik milenial lainnya yang akrab dengan teknologi atau media sosial, sehingga lebih memudahkan mereka mengakses dan menyebarkan informasi untuk bisa diterima oleh banyak orang.

Makin kaya makin peduli

Hal lainnya adalah bagaimana mengubah pola pikir atau mindset generasi milenial bahwa semakin pintar, semakin kaya seseorang niscara semakin religius dan makin peduli atau sedia untuk berbagi, sehingga dengan begitu akan berkontribusi terhadap upaya menjadikan zakat, yang notabenenya adalah sarana berbagi sebagai gaya hidup.

“Bagaimana mereka memiliki persepsi bahwa berbagi, misalnya melalui zakat itu sebagai sesuatu yang ‘cool’ sesuatu keran,”ujarnya.

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana mengajak milenial membangun perspektif baru terhadap makna keran atau the new cool baru. “Misalnya dengan mengaitkan dengan nilai-nilai kebaikan Islam. Contohnya menjadikan zakat sebagai gaya hidup atau the new cool  berikutnya yang lebih religius,”kata Yuswohady.

Bagaimana pun melibatkan generasi milenial baik secara langsung maupun tidak langsung sangat penting dan bisa berpengaruh signifiknas terhadap pertumbuhan zakat, infaq, dan shadaqah (Ziswaf)  ke depannya.

Belum lagi jika melihat kenyataan bahwa populasi penduduk Indonesia berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) saat ini kurang lebih 58 persen terdiri dari generasi milenial atau mereka yang berusia antara 15-35 tahun. Disebutkan pula Indonesia saat ini tengah mengalami bonus demografi dimana sebesar 40 persen penduduknya berusia 20-35 tahun.

Di lain pihak, dalam enam tahun terakhir, industri digital di Indonesia tumbuh sekitar 9,98 persen - 10,7 persen per tahunnya, atau dua kali lipat dari pertumbuhan ekonomi nasional.

Sehingga dengan begitu, maka keterlibatan milenial dalam zakat sudah mesti harus diarahkan.Apalagi jika melihat kecenderungan generasi milenial terhadap teknologi digital, sehingga hal itu secara tidak langsung akan semakin mendorong pengelola Ziswaf  menggunaan teknologi canggih dalam manajemen zakat ke depannya. (*)

Reporter: Fathia Rahma Editor: Ahmad Kholil