Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO | Dok. Grand Dafam Q Hotel Banjarbaru
Selain Q Mall, H. Norhin juga merintis bisnis hotel bintang 4 berkonsep syariah perdana di Indonesia dengan nama Q Grand Hotel Dafam Syariah, di Banjarmasin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Sharianews.com, Banjarmasin. Sekira 30-45 menit dari Bandara Internasional Syamsudinnoor menuju Kota Banjarbaru kita akan sampai di Q Mall, salah satu ikon pusat bisnis di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Bangunan megah yang terletak di lahan seluas 40 ha di Jl. A. Yani KM 26, Banjarbaru tersebut adalah salah satu bukti kisah sukses pengusaha muslim bernam H.Norhin.

Q Mall sendiri berdiri di atas lahan seluas 2,8 ha dengan total luas bangunan mencapai 54 ribu M2. Untuk memberikan nuansa syariahnya, di lantai 4 Q Mall disediakan masjid dengan luas mencapai 600 m2, dan mampu menampung hingga 1.000 jamaah.

H.Norhin dikenal sebagai pengusaha sukses dengan bidang usaha beragam, mulai dari pertambangan batubara, jasa pelabuhan, jasa angkutan barang tambang, properti (perumahan, hotel, dan mall), hingga jasa keuangan berbasis syariah.

Selain Q Mall, H.Norhin juga merintis bisnis hotel bintang 4 berkonsep syariah pertama di Indonesia dengan nama Q Grand Hotel Dafam Syariah, di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Letaknya sekira perjalanan 30-40 menit dari Q Mall. 

Tentang kisah sukses usahanya tersebut, H. Norhin bercerita apa yang didapatkannya saat ini diraih dengan kerja keras. Di atas semua itu, ia mengembangkan usahanya dengan selalu berlandaskan pada nilai-nilai agama.

Tentang perkenalannya dengan bisnis keuangan syariah, misalnya itu diawali dengan interaksinya dengan perbankan syariah, bahkan sejak sepuluh tahun lalu. “Saya mengembangkan usaha mall dan hotel syariah sejak 2012, dan masuk ke bisnis keuangan syariah dengan mendirikan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Kalimantan Selatan, sejak empat tahun lalu,”ujarnya.

Tidak hanya itu, H. Norhin juga melakukan banyak terobosan bisnis, di antaranya: mengakuisisi industri keuangan multifinance PT Tirta Laras, menjadi sebuah multifinance berbasis full syariah ketiga di Indonesia dengan nama Citifin Multifinance Syariah yang berkantor pusat di Jakarta.

Mulai usaha dari bawah

“Saya mengawali usaha dari bawah. Mulai dari pedagang asongan,”ujar H. Norhin kepada sharianews.com, di sela gelaran Syaria Banking Network Event 2018, di Kalimantan Selatan, Sabtu (24/11/18).

Lebih lanjut ia menceritakan awal mula perjalanan membangun bisnisnya di awal 1980-an. Jatuh bangun dilaluinya. Ia merintis usaha sebagai pedagang tekstil. Sempat berhasil, kemudian mengalami musibah kebakaran, gagal, bangkrut dan bangun kembali, ujar lulusan sekolah pendidikan guru agama (SPGA), yang mengaku hanya sebentar menjalani profesi sebagai guru itu.

Usaha konveksi dirintisnya dengan bantuan dari salah satu tokoh pedagang di Pasar Kujajing bernama H. Taimi (almarhum).Saat itu ia pun diajak ke pusat belanja di Tanah Abang Jakarta, untuk memulai bisnis fashion dengan 'kulaan'  langsung di sentra bisnis terbesar di Jakarta itu pada awal tahun 1970an. Dengan modal Rp 3 juta sebagai modal yang dipinjam dari H. Taimi, ia pun menjalankan usahanya.

Singkat cerita, saat bisnis fashion mulai berhasil, tetiba terjadi musubah kebakaran yang menghanguskan semua aset miliknya di pasar Kujajing. Tidak hanya itu, ia pun terlilit utang hingga mencapai Rp 60 juta kepada pedagang rekanan di Tanah Abang.

“Ada rasa hampir putus asa,”ujarnya ketika itu. Dengan penuh tawakal, ia pun bangkit dengan mulai kembali usahanya. Alhamdulillah, ujarnya pedang di Tanah Abang ternyata berbaik hati dan menghapuskan utang miliknya.

Semua itu menurutnya, lantaran ia selalu memegang prinsip kejujuran, dan amanah di dalam membangun bisnisnya, sesuai dengan apa yang diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW, sehingga mitra usahanya pun percaya kepadanya. Rekanan pedagang di Tanah Abang pun memberinya kesempatan untuk membangun kembali usahanya.

Berawal dari CV Citra, cikal-bakal Citra Group

Usaha yang dibangun menemukan titik cerah saat tahun 1980-an, Pemda Kalsel menggalakkan industri cinderamata khas daerah dan batik Sasirangan. Kesempatan yang tidak ia sia-siakan, sehingga ia pun mendirikan CV.Citra yang kelak menjadi cikal-bakal lahirnya PT Pribumi Citra Megah Utama (Citra Group), tempat bernaung jaringan bisnis telah dibangunnya.

Lewat bendara PT Pribumi Citra Megah Utama (Citra Group), yang ia dirikan tahun 1995, Norhin memulai usaha di bidang pertambangan batubara. Hasil usahanya kembali ia investasikan untuk mengembangkan soktor lain, membeli tanah dan membangun usaha properti.

Pernah juga mengalami pasang surut, saat harga pertambangan batubara harganya jatuh. Namun, ia berhasil kembali bangkit mengembangkan sektor bisnis yang lain lewat bendera citra groupnya. Sejak itu usahanya makin menggurita dan berkembang sangat agresif dan menjadi pengusaha yang sangat berpengaruh di wilayahnya.

Di antara cerita suksesnya tersebut, ia menyimpan kisah jatuh dan bangunnya tersendiri. “Sekitar tahun 1998-an, saya bersilaturrahmi kepada seorang ulama terkemuka dari Banjarbaru. Ulama dan guru saya itu memberikan modal usaha untuk saya gunakan membangun bisnis yang sedang terkena imbas krisis,”ceritanya.

“Norhin, ini silahkan digunakan sebagai modal usaha. Jika untung,  berilah aku seikhlasmu. Jika rugi atau uang habis, tidak usah kau pikirkan. Anggaplah itu sebagai pemberianku untukmu,”ujarnya menirukan sang ulama dari kota santri Martapura yang berbaik hati itu kepadanya.

Saat itu, ia pun mengaku serasa mendapatkan amanah dan keepercayaan, sehingga ia pun bisa menjalankan usaha dengan lebih tenang. Rupaya inilah salah satu kunci suksesnya dalam berusaha. “Jujur dan selalu menjaga amanah, serta ikhlas berbagi di saat mendapatkan laba atau keuntungan,”ujarnya.

H. Norhin memang dikenal sebagai pengusaha yang sangat riligius. ia pun rajin selaturrahmi dengan para ulama, hingga memiliki hubungan baik dengan para ulama di Kalsel. Ia bahkan rajin mendatangi majelis taklim dan tak segan meminta nasihat dari para guru dan ulama dalam banyak hal.

Dari para guru dan ulama itulah, ia mengaku sering mendapatkan nasihat-nasihat, bukan saja soal keagamaan, tetapi juga soal kiat-kiat membangun bisnis agar bisa berkembang dan penuh berkah.

Dari semua kisah bisnisnya itu, H. Norhin mengungkapkan bahwa semua usahanya dijalankan berdasarkan prinsip syariah. Berpegang teguh pada ajaran para guru dan ulama, yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah Muhammad SAW. (*)

Ahmad Kholil