Senin, 18 Februari 2019
13 Jumada al-akhirah 1440 H
FOTO | Dok. hallosehat.com
Makanan dinilai halal, selain dilihat dari asalnya, juga perlu dilihat dari proses pengolahan, termasuk rantai distribusinya dari awal sampai makanan dihidangkan di meja makan. Itulah yang disebut dengan halal supply chain.

Makanan dinilai halal, selain dilihat dari asalnya, juga perlu dilihat dari proses pengolahan, termasuk rantai distribusinya dari awal sampai makanan dihidangkan di meja makan. Itulah yang disebut dengan halal supply chain.

Sharianews.com, Jakarta. Makanan dikatakan halal atau sesuai syariat Islam untuk dikonsumsi tidak hanya dilihat dari fisik makanan saja, tetapi juga dari proses pengolahan awal hingga akhir sampai ke tangan konsumen. Karena itu, hal ini perlu juga mendapat perhatian.

Vice Chairman Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Mahendra Rianto mengatakan, jika berbicara halal, berarti berbicara juga soal rantai pasok halal (halal supply chain).

“Makanan daging ayam halal itu, dimulai sejak ayam dari pakannya sampai dia di atas meja, siap santap, itu yang disebut halal supply chain,”jelas Mahendra, di Jakarta, Senin (6/8/2018).

Mahendra menambahkan bahwa sebelum jadi daging, ayam itu perlu diketahui saat masih hidup, bagaimana dipelihara dan diberi pakannya, bagaimana cara memotongnya. Asal ayam itu dari negara mana.

Halal supply chain, juga memperhatikan ketika proses penyimpanan dan memasak. Makanan berbahan halal tidak boleh bercampur dengan yang non halal.

“Ketika dia di lemari es, tidak boleh dicampur dengan bahan non halal. Masaknya juga menggunakan minyak yang tidak boleh dicampur dengan kandungan yang tidak halal,” paparnya.

Jadi, halal itu menurut Mahendra, pertama adalah bagaimana sebuah proses. Kedua, halal itu ketika dia disajikan. Tidak membuat yang makan itu jadi mudharat. “Untuk tidak mudharat ada dua, dari prosesnya, dan barang itu sendiri,” katanya

Yang dimaksud dengan barang itu sendiri, adalah asal barang dilihat dari zatnya. "Barang itu sendiri sudah jelas, sejak dari asalnya memang sudah haram. Contohnya babi, anjing, dan lainnya. Kedua, ketika disajikan itu terjamin tidak memberikan mudharat bagi yang memakannya, halal apa tidak bagian dari proses. Contohnya ayam dipotong apa ayam mati dipotong,” pungkasnya

Mahendra mengungkapkan, jadi setiap proses harus dijamin kehalalannya dengan cara diawasi terus menerus.

Perhatikan asal dan proses olahannya

Sementara Nofrisel, Ketua Dewan Pakar ALI, mengatakan masyarakat saat ini masih memiliki kesan umum, bahwa makanan halal itu, pertama dilihat dari produk atau fisiknya. Padahal, sebenarnya proses-proses yang dilalui juga dapat mengganggu kehalalan makanan.

Intinya, lanjut Nofrisel tidak hanya dari doa dan cara potongnya. Dari mana dan pemberangkatannya seperti apa perlu diperhatikan.

“Datang dari Australia misalnya, proses pemberangkatanya bagaimana, pakai kapal, pakai truk, pakai kontainer yang di dalamnya tidak boleh tercampur dengan yang tidak halal. Sampai daging itu masuk ke rumah makan seperti apa,”jelas Nofrisel, di Jakarta, Senin (6/8/2018)

Karenanya, ia menekankan, perlunya kontrol terhadap halal, bukan hanya produknya, tetapi hingga proses pengolahan sampai cara penyajiannya di meja makan. Sistem manajemen distribusinya seperti apa.

"Proses itu sebenernya yang lebih penting. Itu yang disebut halal supply chain," tuturnya. 

Terkait dengan masalah ini, di Indonesia sebenarnya masyarakat sudah terbantu dengan adanya sertifikasi halal dari MUi untuk mengetahui apakah makanan tersebut halal atau tidak.

Penerbitan sertifikasi itu, berdasarkan situs Kementrian Agama melibatkan tiga pihak, yaitu Badan Pengelola Jaminan Produk Halal, Majelis Ulama Indonesia, dan Lembaga Pemeriksa Halal. Ini sesuai dengan diatur yang tertuang dalam Bab V UU No 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. (*)

 

Reporter : Aldiansyah Nurrahaman Editor : Ahmad Kholil