Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO | Dok. Pribadi
Baznas Kabupaten Sambas menunjukkan keseriusannya di dalam menfasilitasi penerima manfaat program. Suidah ada sinergi dengan stakhodlers terkait baik dengan Pemda maupun Peliteknik yang ada di Kabupaetn Sambas.

Oleh: Efri S. Bahri | Kepala Divisi Monitoring dan Evaluasi Baznas

 

Ada kebahagiaan yang luar biasa kami rasakan tatkala bertemu dan menyaksikan langsung 50 Kepala Keluaraga yang ada di Desa Jirak Kabupaten Sambar Provinsi Kalimantan Barat. Mereka ini adalah penerima manfaat program Zakat Community Development (ZCD)yang di gagas Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Di Desa Jirak inilah Baznas melalui program ZCD, bersinergi dengan Baznas Provinsi Kalimantan Barat dan Baznas Kabupaten Sambas hadir memberikan penguatan modal dan pendampingan terhadap mustahik dengan menguatkan dua program, yaitu: Program Budidaya Tanaman Lada dan Produksi Tenun Ikat Songket Khas Sambas.

Pilihan kedua program ini sejalan dengan hasil pengukuran Indeks Desa Zakat (IDZ) yang dilakukan oleh Pusat Kajian Strategis (Puskas) Baznas bahwa bantuan zakat diutamakan fokus pada dimensi ekonomi. Pada dimensi ekonomi direkomendasikan untuk membuat program pendampingan dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas produksi dari produk unggulan yang sedang dikembangkan yaitu lada dan tenun ikat.

Hampir satu tahun program ZCD Jirak sudah berjalan. Sebanyak 30 orang yang dibagi ke dalam 5 kelompok yang masing-masing terdiri dari 6 orang, mulai merasakan manfaatnya. Melalui pola kerjasama dalam kelompok, budidaya lada menunjukkan hasil yang menggemburakan. Pohon-pohon lada itu tumbuh subur dan semakin tinggi. Insya Allah diperkirakan awal tahun depan petani lada binaan Baznas ini sudah dapat menikmati panen perdana.

Lain halnya dengan 20 orang ibu-ibu yang fokus di produksi tenun ikat songket. Mereka tak perlu menunggu waktu satu tahun untuk menghasilkan pendapatan. Produksi tenun ikat songkat sudah mampu mereka hasilkan setiap 2 pekan. Hasilnya pun sudah bisa langsung dijual. Sehingga setiap bulan setiap orang sudah mampu memproduksi 2 potong tenun ikat.

Bahkan dari hasil penjualan produknya, mereka sudah mulai menjadi munfik (berinfak). Harapannya dengan semakin meningkatnya skala ekonomi usaha, maka mereka mampu berubah dari mustahik, munfik dan menjadi muzaki. Alhamdulillah saat ini mereka sudah mulai melakukan transformasi dari msutahik menjadi munfik.

Perkembangan program ZCD Desa Jirak begitu menggembirakan. Kendati lokasinya begitu jauh dari Ibu Kota, namun semangat petani dan penenun untuk bangkit begitu besar. Sebagai gambaran, jarak Desa Jirak ke pusat kota Kabupaten Sambas mencapai 11,1 km, sedangkan jarak ke ibukota Provinsi Kalimantan Barat mencapai 255 km.

Untuk mencapai lokasi dibutuhkan waktu sekitar 6 jam perjalanan dari Kota Pontianak menuju Kabupaten Sambas dengan menggunakan jalur darat. Sedangkan dari pusat kota Sambas menuju Desa Jirak saat ini sudah dapat ditempuh melalui jalur darat dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Secara demografis, penduduk di desa Jirak berjumlah 766 KK atau 2.937 jiwa. Terdiri dari 1.491 laki-laki dan 1.446 perempuan. Berdasarkan hasil asesmen Tim ZCD tahun 2017, sumber pendapatan masyarakat diperolah dari hasil sumber daya alam, antara lain: budidaya tanaman lada, pohon karet dan bertani. Profesi ini semuanya dilakoni oleh bapak-bapak.

Sedangkan Ibu-ibu yang di Desa Jirak juga turut membantu perekonomian keluarga melalui produksi tenun ikat dengan motif songket khas Sambas. Para ibu-ibu ini mampu memberikan kontribusi untuk keluarga, walaupun tidak begitu besar. Hal ini disebabkan karena kurangnya akses permodalan untuk pembelian bahan baku dan peralatan tenun. Padahal keterampilan untuk memproduksi tenun ikat songkat Sambas telah dimiliki secara turun temurun.

Keberhasilan program ZCD di Desa Jirak tidak terlepas dari dukungan beberapa faktor berikut ini. Pertama, asesmen awal program. Asesmen program menjadi titik awal di dalam mengidentifikasi inti permasalahan yang dihadapi oleh mustahik, memotret potensi sumberdaya lokal serta merumuskan solusi atas permasalah tersebut dengan berbasis sumberdaya lokal.

Sebagai upaya Baznas untuk menghasilkan asesmen yang berkualitas, digunakan metode pengukuran Indeks Desa Zakat (IDZ). Sebagai gambaran IDZ merupakan konsep dan instrumen pengukuran kelayakan dan efektivitas program zakat berbasis komunitas dengan melihat 5 (lima) ukuran dimensi yaitu: dimensi ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosial dan kemanusiaan, serta dakwah. Melalui pengukuran IDZ, maka diperoleh gambaran kondisi dan rekomendasi program yang prioritas untuk dijalankan mencakup 5 dimensi tersebut.

Kedua, kesiapan mustahik. Mustahik adalah subyek di dalam menjalankan program. Motivasi untuk bangkit menjadi modal utama untuk bangkit dan berhasil di dalam dalam menjalankan program.

Dengan adanya modal motivasi yang kuat ini, menunjukkan adanya aware  yang tinggi dari mustahik untuk segera bangkit.Kesungguh-sungguhan mereka ini alhamdulillahmulai berbuah. Dua program utama yang dijalankan yakni: budidaya lada dan produksi tenun ikat songkat dapat berjalan dengan baik.

Ketiga, fasilitator. Fasilitator adalah seseorang yang berperan sebagai motivator, mediator dan edukator bagi mustahik. Keberadaan fasilitator ini menjadi sangat strategis karena menjadi penghubung antara mustahik dengan Baznas. Fasilitator juga berperan di dalam mendampingi program agar sesuai dengan yang direncanakan.

Dalam hal ini, Baznas Kabupaten Sambas menunjukkan keseriusannya di dalam menfasilitasi penerima manfaat program. Bahkan sudah mulai mensinergikan dengan stakhodlers terkait baik dengan Pemda maupun Peliteknik yang ada di Kabupaetn Sambas.

Keempat, sinergi stakeholders. Di dalam upaya mengoptimalkan pencapaian program, maka Baznas menjadi sinergi dengan berbagai pihak antara lain: Pemerintah Desa Jirak, Pemerintah Kabupaten Sambas dan Politeknik Kabupaten Sambas.

Kelima, supervisi. Baznas melalui ZCD, Baznas Provinsi dan Baznas Kabupaten Sambas.Faktor kunci keberhasilan program lainnya adalah supervisi. Supervisi menjadi nadi keberhasilan program mulai dari memberikan dorongan kepada mustahik termasuk stakeholders terkait agar terus memberikan dukungan untuk keberhasilan program. 

Kini senyum sumringah bapak-bapak dan ibu-ibu di Desa Jirak mulai hadir. Manfaat Program ZCD dengan total bantuan sebesar senilai 227.100.000, mulai mereka rasakan. “Kami mengucapkan terimakasih kepada Baznas yang telah memberikan bantuan. Sangat bermanfaat sekali untuk menguatkan usaha tenun songket ini”, ungkap Ibu Julianti salah satu penerima manfaat ZCD di Desa Jirak.

Program ZCD di Desa Jirak merupakan salah satu potret program pemberdayaan komunitas mustahik yang dijalankan Baznas. Geliat progrma ZCD di Desa Jirak tidak lepas dari sebuah upaya untuk mengoptimalkan efektifitas penyaluran zakat untuk pengentasan kemisinan dan peningkatan kesejahteraan mustahik sebagaimana tercantum di dalam Alquran surat At-Taubah ayat 60:

"Sesungguhnya zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk membebaskan orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu kewajiban dari Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS.At-Taubah:60). (*)

 

 

Oleh: Efri S. Bahri