Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO I Dok. Aljazeera.com
Ada enam aspek yang harus dipenuhi supaya bisa masuk industri halal.

Sharianews.com, Pariwasata halal adalah bagian dari industri pariwisata yang menargetkan wisatawan Muslim serta memiliki pelayanan yang merujuk pada  konsep dan aturan Islam.

Salah satu contoh dari bentuk pelayanan ini misalnya hotel yang tidak menyediakan makanan ataupun minuman yang mengandung alkohol, daging babi, dan memiliki kolam renang serta fasilitas spa yang terpisah untuk pria dan wanita.

Bagi wisatawan Muslim, setidaknya ada enam kebutuhan dasar yang harus dipenuhi untuk mendukung kenyamanan saat melakukan perjalanan wisata. Tidak bisa dimungkiri enam kebutuhan dasar ini sudah menjadi standar bagi penyelenggara industri pariwisata halal global. Berikut ini uraiannya

Makanan Halal

Bagi wisatawan Muslim, mencari makanan halal ketika sedang melakukan perjalanan wisata di negara-negara tertentu yang mayoritas penduduknya bukan pemeluk agama Islam, merupakan hal yang sangat sulit. Makanan halal menjadi layanan terpenting bagi wisatawan muslim ketika sedang bepergian. Meskipun penerimaan tingkat jaminan halal setiap muslim bervariasi, tetapi gerai makanan dan minuman yang memiliki logo halal merupakan pilihan yang disukai. Terutama bagi wisatawan Muslim dari Asia Tenggara dan Eropa Barat.

Salah satu contoh negara yang sudah sadar dengan potensi makanan halal ini adalah Jepang. Tempat makan halal banyak tersebar di kawasan Kyoto dan Osaka. Namun, belum banyak wisatawan Muslim yang mengetahuinya. 

Jepang memang sering dikunjungi wisatawan Muslim dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Jepang menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik bagi wisatawan. Baik musim semi, musim gugur, musim panas, ataupun musim dingin.

Fasilitas Ibadah

Sholat merupakan salah satu kewajiban bagi umat Islam. Berdasarkan laporan dari Pew Research Centre, 63 persen umat Islam menjalankan ibadah sholat lima waktu setiap hari. Saat melakukan perjalanan, wisatawan muslim menjalankan ibadah sholat dengan menjamaknya menjadi tiga kali sehari.

Guna memenuhi kebutuhan ini, layanan dan fasilitas umum yang sering dikunjungi wisatawan muslim harus dilengkapi dengan ruang ibadah. Fasilitas lain yang mendukung adalah tempat untuk berwudhu. Wudhu merupakan ritual pembersihan badan dengan menggunakan air yang harus dilakukan bagi umat Islam sebelum menjalankan ibadah sholat.

Fasilitas Air untuk Kebersihan di Toilet

Bagi umat Islam, air memainkan peran penting untuk menjaga kebersihan badan. Kebersihan fisik merupakan aspek penting untuk menjadi seorang Muslim. Untuk menjawab kebutuhan ini, fasilitas toilet yang dilengkapi air untuk mandi dan berwudhu serta untuk menjaga kebersihan, wajib diperhatikan bagi penyedia wisata halal.

Di negara-negara tertentu seperti Jepang dan Eropa, pada umumnya banyak yang menggunakan toilet kering yang hanya menyediakan tisu untuk kebersihan. Menyediakan fasilitas ini memang tidaklah praktis, mengingat ketersediaan luas kamar mandi serta kebiasaan mandi  yang berbeda di negara dengan empat musim. Lain halnya dengan negara-negara Muslim yang berada di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Layanan pada Bulan Ramadan

Meskipun wisatawan Muslim jarang melakukan perjalanan wisata pada bulan Ramadan. Namun, masih banyak umat Islam yang menjalankan Ibadah puasa saat melakukan perjalanan bisnis misalnya. Selain itu, ada sebagian umat Islam yang ingin melakukan perjalanan wisata dikarenakan bertepatan dengan libur sekolah yang cukup panjang.

Di samping itu, banyak juga umat Islam yang ingin menghabiskan liburan selama musim Lebaran. Destinasi wisata yang ingin menjaring wisatawan Muslim harus bisa mengakomodir kebutuhan khusus selama bulan puasa. Misalnya dengan menyediakan katering makanan halal untuk menu berbuka dan sahur.

Tidak Menyediakan Fasilitas Non Halal

Wisatawan Muslim pada umumnya enggan untuk mengunjungi kegiatan yang bersifat non halal atau diharamkan oleh agama. Saat mereka bepergian, wisatawan muslim lebih suka menghabiskan waktu dengan keluarga. Ketersediaan fasilitas yang ramah keluarga menjadi pertimbangan tersendiri. Wisatawan Muslim juga menghindari fasilitas yang menyediakan layanan minum-minuman alkohol, diskotik dan tempat perjudian.

Fasilitas Rekreasi yang Bersifat Pribadi

Sebagian wisatawan Muslim mencari fasilitas rekreasi yang memberikan privasi bagi pria dan wanita. Misalnya, fasilitas kolam renang dan kebugaran yang memberikan privasi bagi pria dan wanita, pantai yang menyediakan area untuk pria dan wanita secara terpisah dan bersifat privasi.

Memang, tidak semua wisatawan Muslim patuh dengan aturan yang ditetapkan oleh agama. Guna memenuhi kebutuhan di atas, penyedia jasa wisata sebaiknya bisa memberikan fasilitas sesuai kebutuhan dengan tiga kategori "Perlu Memiliki", Bagus untuk dimiliki "dan" Senang memiliki ". (*)  

 

Achi Hartoyo