Senin, 18 Februari 2019
13 Jumada al-akhirah 1440 H
FOTO I Dok. Citrust.id
Ekonomi dan industri kreatif di Indonesia masih memiliki beberapa tantangan dalam mendorong pertumbuhan industri halal.

Sharianews.com, Jakarta. Sebagai negara dengan potensi ekonomi dan industri kreatif yang sangat tinggi, Indonesia dinilai mampu mengembangkan kreativitas industri halal. Model ekonomi kreatif memungkinkan fleksibilitas modal dan pemanfaatan teknologi serta bisa berkonsentrasi pada modal kreatif manusia.

Dilansir dari laman bekraf.go.id pada tahun 2016 lalu ekonomi kreatif Indonesia telah memberikan, kontribusi sebesar Rp922,59 triliun (USD 66,61 miliar), yang menyumbang 7,44 persen dari PDB Indonesia. Industri kreatif di Indonesia mampu memberikan lapangan pekerjaan kepada 16,91 juta penduduk atau sekitar 14 persen dari angkatan kerja nasional aktif.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus-menerus, dunia membutuhkan lebih banyak perspektif dan alternatif untuk mengatasinya. Ekonomi dan industri kreatif menawarkan solusinya. Ekonomi dan industri kreatif menawarkan pendekatan kontemporer untuk mengatasi ketimpangan dan pendapatan masyarakat.

Meski mampu menunjukkan perkembangan yang signifikan, ekonomi dan industri kreatif di Indonesia masih memiliki beberapa tantangan dalam mendorong pertumbuhan industri halal.

Irfan Syauqi Beik, pengamat ekonomi syariah dari PUSKAS-Baznas mengungkapkan setidaknya ada empat hal yang menjadi tantangan.

Pertama, dari sisi pemahaman, sebagian pelaku industri kreatif belum memahami urgensi kehalalan dari produk yang mereka tawarkan kepada konsumen. Pelaku industri kreatif harus mengetahui bahwa halal membutuhkan sertifikasi sebagai jaminan atas produk yang mereka kembangkan.

Kedua, proses sertifikasi halal bagi industri kreatif. Mulai dari kecepatan proses hingga biaya masih menjadi kendala bagi sebagian pelaku industri kreatif. Meskipun LPPOM-MUI sudah melakukan subsidi silang antara industri besar dengan industri yang sedang tumbuh, tetapi dibutuhkan intervensi dari pemerintah supaya bisa meminimalisir biaya atau memberikan subsidi kepada industri kecil.

Ketiga, adalah halal awareness masyarakat terhadap produk industri kreatif. Masih banyak masyarakat yang merasa bahwa produk yang beredar sudah pasti halal. Hal tersebut perlu didorong agar sensitivitas masyarakat terhadap produk yang beredar semakin tumbuh.

Keempat, adalah kreativitas produk. Para pelaku industri kreatif harus membuat inovasi supaya industri kreatif halal yang beredar memiliki daya saing. Baik dari sisi packaging, rasa (industri makanan), desain maupun kualitas produk kreatif.

Jika keempat tantangan tersebut mampu diatasi, maka potensi industri kreatif halal akan semakin mudah berkembang. Perlu koordinasi untuk mengembangkan kedua potensi tersebut secara bersamaan, pelaku industri kreatif dengan industri halal perlu lebih bersatu, saling melengkapi dan saling konsolidasi meskipun tidak harus dalam satu asosiasi. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Achi Hartoyo