Sabtu, 19 Januari 2019
13 Jumada al-ula 1440 H

Beda Harga Karena Waktu

Kamis, 13 Desember 2018 12:12
FOTO | Dok. istimewa
Penentuan harga jual beli itu boleh karena faktor apapun oleh karena tidak ada dalil larangannya. Lalu bagaimana dengan penentuan harga oleh sebab perbedaan waktu pelunasan? Ini dia penjelasannya.

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang terhormat, Ustadz Ahmad Ifham Sholihin. Berikut saya mau menyampaikan permasalah yang saya hadapi. Mengapa dalam kredit syariah harga cicilan lebih mahal dari harga tunai? Menurut para ustadz yang ceramahnya disiarkan youtube, dalam kredit barang (motor/mobil/rumah), penjual boleh menjual dengan cara cicilan denga harga yang lebih mahal dari harga tunai, tetapi mereka tidak menjelaskan mengapa harga cicilan lebih mahal. Tidak juga dijelaskan bagaimana pedagang menentukan besarnya kenaikan harga cicilan.

Harga cicilan pasti lebih mahal daripada harga tunai, karena uang itu berbunga. Uang satu juta rupiah hari ini tidak sama denga uang satu juta rupiah lima tahun lagi.

Berapa besaran kenaikan harga cicilan? Tergantung pada suku bunga yg berlaku. Sebagai contoh, harga barang tunai = Rp 1.000.000. Berapa harganya jika dicicil 3 tahun?

Tergantung  dengan suku bunga  (r). Misalnya r = 10 persen. Maka harga cicilan 3 tahun akan menjadi :   

               = harga sekarang  x (1 + r) (pangkat 3)

               = 1.000.000 x (1,1)3

               = 1.000.000 x 1,331

               = 1.331.000

Pedagang tidak bisa sembarangan menaikkan harga cicilan. Kalau kenaikannya per tahun jauh lebih tinggi dari  suku bunga maka barangya tidak laku karena terlalu mahal (kalah dengan pesaingnya). Sebaliknya, kalau kenaikannya per tahun lebih rendah dari suku bunga maka dia akan rugi.

Harga cicilan, baik dengan sistem syariah maupun konvensional, pasti lebih mahal dari pada tunai karena kedua sistem tersebut mengikuti suku bunga.

Demikian permasalah saya atas pencerahan dan penjelasannya saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum, warrahmatullahi wabarakatuh

* Catatan: Mohon maaf jika hitungannya keliru. Mohon koreksi dari teman-teman     yg ahli ekonomi. Saya bukan ahlinya.

Ridwan, Bekasi Jawa Barat

Jawab :

Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh

Sdr. Penanya yang dicintai Allah, semoga kita semua selalu berlimpah barakah dari Allah agar kita bisa konsisten bertransaksi keuangan hanya di Lembaga Keuangan Syariah saja. Amin.

Terhadap permasalahan tersebut di atas, saya bisa tanggapi sebagai berikut. Pertama, tidak akan bisa ditemukan ada harga dalam kredit di Bank Konvensional, sehingga tidak akan mungkin ada harga, dengan begitu tidak akan mungkin disebut ada harga murah atau mahal.

Kedua, angsuran cicilan di bank konven dengan harga cicilan di bank syariah, penentuannya berbeda. Di bank konven, penentuan jumlah maksimal kewajiban pembayaran, terjadi ketika sudah deal akad, tergantung jangka waktu pembayaran. Di bank syariah, penentuan jumlah maksimal kewajiban pembayaran, terjadi pada saat deal akad, tidak tergantung jangka waktu pembayaran.

Ketiga, penentuan harga jual beli itu boleh karena faktor apapun oleh karena tidak ada dalil larangannya.Tentu saja kontraknya harus jual beli dan ketika jual belinya deal, pembeli hanya memilih satu harga. Hal ini tidak terjadi di Bank Konven.

Keempat, penentuan harga, boleh mengacu pada suku apapun, termasuk suku bunga. Pada skema dagang, penentuan harga itu belum akad, sehingga tidak bisa dihukumi selain halal. Berbeda dengan bank konven, penentuan kewajiban bayarnya dilakukan setelah deal kontrak karena dipengaruhi tingkat suku bunga setelah deal kontrak.

Kelima, berdasarkan uraian di atas bisa disimpulkan bahwa transaksi jual beli itu boleh membuat seribu alternatif harga dengan pertimbangan apapun dan mengacu pada suku apapun asalkan ketika deal harga, hanya memilih satu pilihan harga.

Perhatikan juga bahwa di Bank Konven tidak ada akad kredit jual beli, sehingga tak akan bisa dibandingkan dengan skema jual beli di Bank Syariah.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.

Sharia Corner | Diasuh oleh: Ustadz Ahmad Ifham Sholihin