Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO I Dok. Sharianews
Kegiatan traveling tidak harus melupakan prinsip-prinsip keislaman.

Sharianews.com, Jakarta Zaman now istilah backpacker sudah tidak asing lagi di kalangan anak muda. Banyaknya acara televisi yang menanyangkan acara traveling, menjadikan kegiatan yang mengeksplorasi destinasi wisata dengan biaya murah alias budget traveler, menjadi tren baru di kalangan milenial.

Istilah backpack berasal dari bahasa inggris yang artinya tas yang digendong di belakang. Dan backpacker sebagai subjek, orang yang membawa tas di belakangnya, atau istilah yang sering kita dengar adalah orang yang melancong dengan mengrus segala sesuatunya sendiri. Konon, sebelum istilah backpack muncul, tentara sering menyebutnya dengan istilah rucksack.

Banyaknya jumlah backpacker di Indonesia, menjadi peluang bagi industri pariwisata halal karena mayoritas dari mereka adalah Muslim. Meskipun tidak semua backpacker menerapkan gaya hidup halal, tetapi tidak sedikit pula yang masih menjalankan prinsip-prinsip keislaman dalam menekuni hobinya.

Ima Larasati misalnya, seorang backpacker Indonesia dari komunitas Backbone Adventure mengatakan kegiatan backpacking tidak lain bertujan untuk tafakur alam atau mengamati dan memerhatikan alam sekitar, agar senantiasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Meluruskan niat sebelum melakukan perjalanan adalah sesuatu yang penting.

“Niatkan untuk bertafakur pada Allah, sehingga apapun yang kita lakukan dapat bernilai ibadah dan mencari ridhoNya. Sebagai seorang backpacker Muslim jangan sampai melupakan kewajiban kita kepada Allah seperti shalat lima waktu, makan-makanan halal serta tetap memerhatikan perintah dan batasannya” Ujar Ima kepada Sharianews, Jumat (30/11).

Inilah yang membedakan antara backpacker Muslim dengan traveler lain. Selalu menjaga prinsip-prinsip keislaman dalam kegiatan backpacking.

Ima mengatakan, seorang backpacker muslimah wajib memerhatikan hijabnya di setiap perjalanan. Istilah backpacker muslimah mungkin cenderung melekat pada pakaian yang berhijab syar’i dengan tidak melupakan aspek kenyamanan dan keamanan.

“Sebagai backpacker muslimah, sebaiknya gunakan pakaian yang sederhana, yang paling penting bisa menikmati perjalanan dengan tetap menjaga batasannya. Pilih hijab yang nyaman dan jangan lupa memerhatikan aspek keselematan. Terutama ketika beraktivitas outdoor yang bersifat adventurious, “ Ima menambahkan.

Indah Nada Puspita, presenter Hijab Traveller trans 7, juga menganjurkan untuk memilih pakaian sederhana namun fungsional.

“Secara personal style aku lebih suka yang simpel dan fungsional. Selain itu lebih suka pakaian yang bisa di-mix and match untuk kegiatan lain, jadi gak perlu bawa banyak baju. Karena dalam traveling kita kan ingin menikmati jalan-jalannya, bukan aktivitas yang merepotkan  karena membawa banyak baju,” Kata Indah saat ditemui Sharianews.

Kemudian masalah make up dalam traveling atau backpacking, presenter acara traveling ini tertarik dalam memilih make up yang natural atau sederhana. “Untuk fondation aku pilih yang sangat light agar tidak jerawat dan beruntusan, karena traveling itukan istirahatnya sedikit. Untuk lipstik sendiri pilih our go to colour. Dan untuk membersihkan make up-nya aku menggunakan tisu basah, lebih simpel,” kata Indah menambahkan.

Kemudian dalam hal memilih makanan dan tempat menginap juga menjadi aspek yang harus diperhatikan. Makanan dan fasilitas halal tetap menjadi prioritas selama melakukan kegiatan backpacking. (*)

 

                                                                                                                              

Reporter: Fathia Editor: Achi Hartoyo