Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO | arif.sharianews.com
Ayana, mualaf berkebangsaan Korea ini cukup terkenal di Indonesia dan Malaysia sebagai selebgram dan model.

Sharianews.com, Jakarta ~ Gelombang hijrah dewasa ini sedang besar. Dapat dilihat di layar televisi yang banyak memberitakan hijrahnya para artis tanah air. Hijrah yang artinya berpindah, seringkali dimaknai sebagai keputusan untuk berpindah ke jalan yang benar. Tidak sebatas pada perempuan muslim yang memtuskan berhijab, namun juga bagi non-muslim yang menjadi mualaf atau masuk Islam.

Salah satu nama tokoh muslimah yang sejak hijrahnya, menjadi perbincangan publik adalah Ayana Jihye Moon. Mualaf berkebangsaan Korea ini cukup terkenal di Indonesia dan Malaysia sebagai selebgram dan model. Sebagaian besar kegiatannya saat ini adalah di Indonesia.

Ayana mengatakan bahwa Indonesia dan muslimahnya memberikannya kenyamanan, lantas gaya hidup islami yang dijalankan dari sebagian besar mereka, memberikannya inspirasi. Disamping itu, dia juga meyakini dengan tinggal bersama orang-orang mayoritas muslim, akan bisa menjaga keimanannya.

“Indonesia memberikan kenyamanan, ada banyak makanan halal, banyak mushala. Korea sangat sulit untuk mempertahankan keislaman, khususnya untuk yang berhijab di sana, makanya kenapa saya pindah ke Indonesia,”ujar Ayana kepada sharianews, Sabtu (1/12) di Senayan City.

Dia mengakui bahwa muslimah di Indonesia sangat membantunya dalam proses hijah. Lantas, dilingkungan tempat Ayana tinggal di Korea, hanya seorang diri yang memeluk Islam. Itulah mengapa dia merasa lebih nyaman tinggal di Indonesia, meskipun suatu waktu dia juga merindukan tanah kelahirannya.

 

Awal mula tertarik Islam

Ketertarikannya pada Islam bermula pada ketertarikannya pada Timur Tengah, yang membuatnya mencaritahu lebih jauh tentang Islam, hingga akhirnya memutuskan menjadi bagian dari muslimah sejak tahun 2012 lalu, dan langsung mengenakan hijab kala itu.

Banyak sekali perubahan yang dialami muslimah kelahiran 1995 ini setelah dirinya hijrah. Sebelumnya, dia mengaku sama sekali tidak mengenal agama dan tidak ada kendali dalam dirinya. Pergaulan di Korea sendiri yang sangat ekstrim, terlebih sifat kompetitif untuk saling mengunggulkan diri (Acchieve their cost).

Namun setelah hijrah, Ayana merubah gaya hidupnya hampir seratus persen. Kontrol diri menjadi prioritas, kemudian lebih sering berdoa, malaksanakan shalat, dan kewajibannya lainnya. Hal ini mengingatkan, bahwa syahadat dapat merubah kehidupan seseorang.

“Dan satu hal yang kemudian saya syukuri lagi yaitu saudara-saudara muslim di Indonesia sangat mencintai saya. Membat saya tidak asing untk tinggal di bukan negara asal,” tuturnya.

Tinggal di Indonesia juga yang membantunya untuk berkarir. Sebab Korea sangat sulit untuk perempuan berhijab, tidak bisa mncari pekerjaan, tidak bisa menikah. Itulah yang membuatnya bertolak dari negara asalnya tersebut.

Hebatnya, Ayana juga tengah melakoni beberapa bisnis dan salah satunya adalah di bidang travel halal ke Korea. Hal ini disadari karena seringali turis-turis muslim yang berkunjung ke Korea merasa kesulitan untuk makan, beribadah, menginap dan lainnya.

Inilah peluang yang dibidiknya. Bisnis yang dikembangkannya adalah menawarkan kemudahan-kemdahan tersebut bagi muslim, dari soal makan, sarana ibadah, dan bahkan mukena pun disediakan. (*)

 

Reporter: Fathia Rahma Editor: Ahmad Kholil