Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO | Dok. Muslim Obsession
Apapun karakter atau peniliain yang dimiliki generasi milenial, hal tersebut merupakan potensi yang harus dioleh secara maksimal oleh industri asuransi syariah.

Sharianews.com, JakartaPT Asuransi Takaful Keluarga (ATK) mencoba menyesuaikan diri dengan karakter generasi Y atau milenial, yaitu generasi yang lahir pada kisaran 1980-2000-an. Generasi yang dinilai memiliki perbedaan dengan generasi sebelumnya, terutama berkait dengan penguasaannya terhadap teknologi informasi.

Hal itu disampaikan oleh Arfandi Arief, Direktur Utama ATK. Ia mengatakan pihaknya akan berusaha menyesuaikan dengan karkater yang dimiliki generasi milenial yang menurutnya relevan dalam dunia asuransi. "Ini menjadi bahan acuan ATK dalam bersikap untuk menghadapi potensi asuransi syariah untuk milenial,"jelas Arief di Jakarta Selasa (4/12/18).

Menurutnya ada beberapa karakter milenial yang menjadi sorotannya, pertama, mereka mimiliki konsentrasi untuk mengejar passion, kedua fleksibel dalam hal waktu dan ruang kerja. Ketiga, senang eksplorasi dan kolaborasi serta mahir dalam teknologi.

Tidak hanya itu, generasi milenial juga mengutamakan lifestyle, namun kurang cakap dalam mengelola keuangan, cepat bosan, serta memiliki sifat konsumtif.

Arief mengatakan, pihaknya melihat, apapun karakter atau peniliain yang dimiliki generasi milenial, hal tersebut merupakan potensi yang harus dioleh secara maksimal oleh industri asuransi syariah, tak terkecuali oleh ATK.

“Potensi buat kita, seperti karakter mengejar passion, itu meyikapinya bagaiamana? Lalu, karakter kurang memperhatikan aspek keuangan, bagaimana kita menyikapi? Jadi ini soal meyikapi karakter tersebut,”jelas Arief.

Menyambut era milenial

Arief mengatakan, penyesuaian diri terhadap strategi bisnis untuk menyambut era milenial, mau tidak mau harus dilakukan. ATK melakukan transformasi kultural dan struktural di internal ATK (rebranding). Mencoba mengantisipasi karkater milenial dengan melakukan perubahan.

“Di 2018 kami mencoba mengganti logo dengan yang lebih segar. Karena kami khawatir dengan logo yang lama, kaum milenial tidak mengerti ini perusahaan asuransi atau lembaga dakwah atau lembaga apa. Oleh karena itu, kami mencoba menyesuakian dengan gaya baru, warna yang lebih cerah. Ini semata-mata untuk mengatasi kesenjangan image di depan milenial style,”tutur Arief.

Selain itu, pihaknya juga akan melakukan inovasi produk dan layanan guna mengakomodasi gaya hidup dan kebutuhan milenial. Kebiasaan lama seperti pergi ke rumah sakit dan membayarnya dengan uang tunai itu sudah kuno dan tidak selaras dengan gaya anak milenial.

Sebab menurut Arief, saat ini di mata para milenial adalah era gesak kartu dalam setiap transaksi, tidak lagi perlu melihat uang secara tunai. Karena itu menurutnya, jika hal-hal tersebut tidak diantisipasi, maka akan sulit berinteraksi dengan generasi milenial. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Ahmad Kholil