Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO | Dok. startups.co.uk
Sosialisasi dan edukasi terkait apa itu asuransi syariah, dan apa perbedaan dengan konvensional di kalangan milineal sangat penting untuk meningkatkan literasi asuransi syariah.

Sharianews.com, Jakarta ~ Para pelaku industri asuransi syariah diminta menargetkan pangsa pasar milenial dengan cara melakukan inovasi dan transformasi produk dan sarana serta prasarana yang sesuai dengan kebutuhan Generasi Y.

Moch Muchlasin, Direktur Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan, asuransi syariah mesti diperbesar dengan cara menggaet para milenial. Generasi ini diincar oleh banyak pihak karena jumlahnya berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 64,49 persen dari penduduk Indonesia dengan usia 20-40 tahun.

"Untuk memperkuat asuransi syariah ini maka perlu menggaet potensi besar yang saat ini sedang dibidik banyak pihak, yakni kalangan milenial," ungkap Muchlasin saat menjadi nara sumber di acara seminar Potensi dan Inovasi Asuransi Syariah yang digelar Islamic Insurance Society di, Jakarta, Selasa (4/12/2018).

Pada saat ini menurutnya, generasi milenial memang lebih tertarik pada investasi dari pada asuransi, seperti proteksi dan intermediaries. Karena itu, penting untuk mengetahui karakteristik dari para milenial ini bagi pelaku bisnis asuransi syariah, sehingga bisa menyesuaikan.

Sosialisasi dan edukasi juga perlu dilakukan terkait apa itu asuransi berbasis syariah, juga terkat perbedaan antara syariah dan konvensional. “Sehingga inilah tantangan kita untuk membuat produk proteksi yang menarik,”ujarnya.

Muchlasin menyampaikan perbedaan antara syariah dan koncvensional adalah bahwa asuransi syariah berdasar pada akad tolong-menolong dan berbagi potensi risiko. Sementara asuransi konvensional fokus pada memindahkan risiko.

OJK sendiri telah berupaya bersama stakeholder untuk meningkatkan pangsa pasar. Mulai dari peningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia hingga memperlebar peluang investasi pada sektor syariah.

Lebih lanjut, ia mengatakan milenial sangat erat kaitannya dengan digitalisasi. Mereka butuh platform yang serba cepat dan mudah. Sehingga di asuransi, akan lebih baik jika mengembangkan aplikasi yang mempermudah akses pada produk, mulai dari proses pendaftaran, pembayaran premi, hingga klaim.

Muchlasin menuturkan, saat ini pertumbuhan asuransi syariah, memang masih berada di angka lima persen. Pertumbuhan aset asuransi syariah sekitar 25 persen mulai 2012 hingga 2017. Pada 2017, aset syariah tumbuh 21,96 persen secara year on year (yoy).

Sementara, pertumbuhan bisnis mengalami perlambatan. Hingga September 2018, aset asuransi syariah tumbuh 3,2 persen secara year to date dan 6,1 persen yoy.

Hal ini menurutnya, salah satunya ditengarai karena mulai berkurangnya minat investasi terhadap bisnis, selain itu juga karena masih rendahnya literasi dan inklusi keuangan syariah, "Di mana berdasarkan survei 2016, inklusi asuransi secara keseluruhan baru 12,08 persen dan asuransi syariah hanya 1,92 persen,"paparnya. (*).

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Ahmad Kholil