Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H

Annyeong Haseyo, Halal Korea?

Senin, 3 Desember 2018 17:12
FOTO | Dok. Nastiti Tri Winasis
Siapa yang tidak kenal dengan Korea Selatan, Negeri  Ginseng dengan pesona yang membius kaum muda kekinian. Korea Selatan dengan sejuta imaji telah berhasil menarik perhatian masyarakat dunia beberapa dekade terakhir ini.

Sharianews.com, Korea Selatan. Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata “Korea”? Apakah Ginseng, Bintang K-Pop? Drama Korea Romantis “Winter Sonata” atau Gangnam Style?

Atau sah-sah saja jia yang terlintas di benak Anda adalah Olimpiade Musim Dingin? Atau justru perang dingin Korea Selatan vs Utara? Chaebol? Kimchi? Hyundai? Oplas? Teknologi Canggih 4G? Lainnya, contohnya halal lifestyle yang tanpa diduga mulai menjadi perhatian wisata di Korea Selatan? 

Korea Selatan, Negara dengan Sejuta Imaji

Siapa yang tidak kenal dengan Korea Selatan, Negeri  Ginseng dengan pesona yang membius kaum muda kekinian. Korea Selatan dengan sejuta imaji telah berhasil menarik perhatian masyarakat dunia beberapa dekade terakhir ini. Belum lagi berbagai prestasi di dunia olahraga yang menjadikannya sebagai salah satu negara di Benua Asia yang layak diperhitungkan.

Untuk mencapai kemajuan seperti yang dirasakan saat ini, Korea Selatan membutuhkan perjuangan panjang. Sejatinya kehidupan masyarakat Korea Selatan tidak seratus persen seindah seperti yang kita bayangkan. Gap antara masyarakat kelas atas dan bawah sebenarnya cukup kentara. Namun isu ini tertutup oleh etos kedisiplinan masyarakat Korea Selatan yang luar biasa.

Sebagai salah satu negara di Asia yang mengalami empat musim, penduduk Korea Selatan terpaksa harus tangguh dalam menghadapi lingkungannya. Ketangguhan ini tampak  mempengaruhi sendi-sendi kehidupan sehari-hari, mulai dari disiplin dalam bekerja atau menghargai waktu, menjaga kebersihan lingkungan, disiplin dalam berlalu lintas.

Selain itu, masyarakat Korea Selatan jugan dikenal sangat disiplin dalam menjaga kesehatan, hingga menghargai kaum manula – generasi Builders dan Baby Boomers – yang populasinya relatif masih cukup banyak karena memang usia harapan hidup masyarakat Korea Selatan khususnya kalangan perempuan adalah tertinggi di dunia (saat ini mencapai angka 90 tahunan).

Di sini tingkat obesitas dan tekanan darah lebih rendah dibandingkan banyak negara Barat juga jumlah perokok di kalangan perempuan lebih rendah. Yang juga pasti adalah karena kedisplinan mereka menjaga kesehatan dengan cara berolah raga serta makan makanan berkualitas dan segar.

Sisten kesehatan yang merata

Di samping itu, di Korea Selatan sudah memiliki sistem layanan kesehatan yang cukup merata dengan kesadaran memiliki polis asuransi kesehatan yang cukup tinggi (bahkan lebih tinggi dibanding Amerika Serikat). Tak heran juga ketika kita melihat orang-orang tua dari generasi Builders dan Baby Boomers tetap antusias menjaga stamina mereka, dan tetap ingin tampak awet muda.

Ada joke lucu di kalangan anak muda Korea Selatan, bahwa kaum “brokoli” (ibu-ibu manula Korea Selatan yang berambut selalu rapi, dicat hitam dan dikeriting) tak mau kalah dengan kaum millenial. Ke mana-mana jalan kaki (meskipun kadang-kadang harus membawa tongkat), sembari membawa gadget dan tetap percaya diri memanfaatkan fasilitas kota yang serba modern. Mereka bangga tanpa operasi plastik, dan seolah-olah “menyindir” kaum mudanya mulai tergila-gila dengan operasi plastik, khususnya para pekerja di industri hiburan yang sarat kompetisi.

Karena kota-kota di Korea Selatan sudah  menerapkan smart-city, penduduk dipaksa harus menyesuaikan diri. Segala fasilitas umum dibangun  dengan prinsip pemanfaatan teknologi yang optimal. Apalagi Korea Selatan terkenal sebagai negara dengan fasilitas 4G tercepat di dunia.

Disrupsi, evolusi teknologi

Disrupsi yang paling kelihatan menyolok adalah digitalisasi yang diakibatkan dari evolusi teknologi (terutama informasi), di mana hal ini mengubah hampir semua tatanan kehidupan, termasuk tatanan dalam bisnis/usaha di Korea Selatan. Konektivitas Korea Selatan melalui teknologi, membuat kondisinya tampak berbeda dari apa yang diimajinasikan orang mengenai tradisionalitas atau kekolotan masyarakat di sana.

Warga Korea Selatan mewakili Citizen 4.0 yang tercipta bersamaan dengan perubahan yang terjadi dalam sendi kehidupan mereka, yang kini telah mulai terintegrasi secara optimal dengan teknologi. Hal tersebut  mendorong terbentuknya gaya hidup yang semakin terbuka, seolah Korea Selatan semakin horizontal. Hal ini berbeda dengan saudaranya, yaitu Korea Utara yang dari tahun ke tahun masih saja berkutat dengan masalah politik.

Di bidang bisnis, masyarakat Korea Selatan dididik untuk memiliki nasionalisme yang tinggi. Tidak heran jika hampir semua merek lokal buatan anak bangsa Korea Selatan mendominasi pasar di sana. Sementara merek-merek Jepang dan Amerika Serikat menjadi pilihan kesekian.

Namun demikian, mereka sama sekali tidak menutup kerjasama dengan negara-negara lain khususnya yang memiliki demand tinggi terhadap produk-produk Korea Selatan (utamanya yang berbasis teknologi). Dalam hal ini Korea Selatan berhasil menghadapi complexity in customer, memperlakukan pelanggan potensial khususnya kaum millenial dan mereka yang berjiwa millenial sebagai “raja sekaligus mitra” untuk mempromosikan produk-produknya.

Korea Selatan secara cermat mencoba memahami konsumen dari generasi millenial yang memiliki karakter kompleks, berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. “Praktis, ringkas dan mudah” menjadi tipikal yang melekat pada generasai millenial, yang notabene merupakan pelaku disrupsi baik digital maupun lifestyle.

Korea Selatan juga memahami konsep “style and substance” bahwa saat ini segala sesuatu tidak hanya dituntut menarik, tetapi juga harus up-to-date (kekinian). Konten tradisional namun memiliki konteks/kemasan kekinian apalagi didukung dengan infrastruktur (cara mengkomunikasikan) yang memanfaatkan digitalisasi secara optimal menjadi kunci kesuksesan Korea Selatan. (*)

Oleh: Nastiti Tri Winasis | CEO In Vergen - Marketing Research Center