Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO | Dok. Infobanknews
Ada beberapa peluang inovasi yang bisa bisa dilakukan untuk menjawab tantangan dan kebutuhan sebagai pengguna produk asuransi syariah.

Sharianews.com, Jakarta ~ Asuransi syariah diharapkan mampu menjawab peluang dan tantangan untuk meningkatkan pertumbuhan di masa depan. Karena itu, asuransi syariah pun dituntut tidak berhenti melakukan inovasi, baik produk maupun layanan, agar tidak ditinggal oleh kompetitor dan nasabah.

Demikian disampaikan Policy and Procedure Group Head Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah), Ana Nurul Hayati. Menurutnya, berdasarkan pengalaman, nasabah jika mereka tidak mendapatkan layanan yang nyaman, mereka akan pergi. Itu mengapa penting bagi industry asuransi syariah terus melakukan inovasi.

Dijelaskannya, setidaknya ada beberapa peluang inovasi bisa bisa dilakukan untuk menjawab tantangan yang Mandiri Syariah harapkan sebagai pengguna produknya.

Pertama, asuransi syariah harus menyiapkan produk yang relevan dan kompetitif. Produk yang sesuai kebutuhan masyarakat dan customer experience.

Mandiri Syariah sendiri pun juga melakukan inisitif strategi, perubahan bisnis proses yang luar biasa. “Mobile apps sedang kita siapkan dan kami ingin melakuakn host to host dengan perusahaan asuransi yang nantinya memang bisa link dengan produk kita,”jelas Ana, di Jakarta, Selasa (4/12/18).

Karena itu, ujarnya Mandiri Syariah mengundang perusahaan asuransi yang bisa memberikan layanan yang terbaik dengan rate yang kompetitif untuk bekerjasama.

Kedua, building trust. Perusahaan asuransi harus sedekat mungkin dengan nasabahnya melalui kantor cabang, iklan dan agen. Untuk itu Ana menyarankan adanya program edukasi. “Saya yakin sudah banyak asuransi syariah yang memiliki kantor cabang di banyak kota, sehingga memudahkan pelaksanaan program edukasi,”ujarnya.

Kemudian yang ketiga adalah peningkatan kapasitas. Antara lain melalui penambahan modal atau bisa melakukan Initial Publivc Offering (IPO). Keempat, yakni terkait biaya kontribusi bersaing. Ana mengharapkan kesan biaya kontribusi yang mahal dihilangkan, agar nasabah tidak mudah membanding-bandingkan dengan pihak lain. \

“Kami harapkan adanya transparansi yang clear, bisnis model yang clear, sehingga kami  pengguna jasa asuransi pun bisa menggunakan dengan nyaman,”ungkap Ana.

Terakhir, atau yang kelima adalah distribution channel. End to end process melalui e-channel mulai dari beli produk sampai proses klaim. Untuk ini, lebih lanjut ia menambahkan, asuransi syariah mestilah melakukan inovasi untuk mendukung bancassurance.“Ke depannya kita harapkan bisa bersinergi untuk pertumbuhan dan perkembangan ekonomi syariah di Indonesia,”tutup Ana. (*)

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Ahmad Kholil