Jumat, 14 Desember 2018
06 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO | Dok. Harian Analisa
Ada beberapa langkah strategis yang harus dilakukan untuk meng-konversi bank konvensional menjadi bank syariah.

Sharianews.com, Jakarta. Bank Aceh sudah konversi menjadi Bank Syariah, jadi tak ada lagi Bank Aceh Konvensional. Bank NTB pun sudah konversi menjadi Bank Syariah, jadi tak ada lagi Bank NTB Konvensional.

Berharap langkah ini disusul Bank lain seperti Bank Riau Kepri, Bank Nagari, bahkan bisa ditiru oleh Bank Mandiri, Bank BRI, Bank BNI, Bank BTN dan bank-bank lainnya. Dengan demikian, berharap tak ada lagi bank-bank konvensional.

Visinya sederhana, yakni menjadikan semua perbankan mau menggunakan transaksi dagang ketika ambil untung. Langkah ini sudah dilakukan selama 26 tahun oleh Bank Syariah. Ternyata hal itu bisa dilakukan dan legal formal.

Dalam rangka bisa mewujudkan hal tersebut, ada beberapa langkah strategis yang bisa dilalukan.

Pertama, kampanye ngaji muamalah. Kampanye ngaji muamalah bisa dimulai dengan mengajak bankir konven dan bankir syariah untuk ngaji muamalah.

Selain itu, penting juga untuk mengajak berbagai pihak lain untuk ngaji muamalah. Karyawan Bank Konven kita ajak ngaji muamalah. Karyawan Bank Syariah dipersering ngaji muamalahnya.

Jangan lupa, para Nasabah juga mari kita ajak ngaji muamalah. Para PNS, para politisi, para polisi, para jaksa, para pengusaha, ayo kita ajak ngaji muamalah.

Hal ini dilakukan agar manusianya siap terlebih dulu dengan sistem perbankan dengan basis transaksi dagang. Kita sadar bahwa lebih dari satu abad manusia Indonesia dibiasakan pesta riba, sudah mendarah daging. Dengan demikian, perlu edukasi dan literasi massal dan masif dalam menyiapkan manusia pengguna bank syariah.

Pastikan bahwa ngaji muamalahnya kepada siapapun yang tidak hoby melawan Ulil Amri. Ulil Amri adalah Ulama Dewan dan Umara Dewan. Melawan Ulil Amri adalah biang kegaduhan muamalat kontemporer.

Kedua, mempersiapkan infrastruktur. Infrastruktur di sini terdiri dari urusan teknis sampai dengan regulasi. Butuh effort signifikan.

Secara teknis, konversi membutuhkan proses pemindahan semua aset dan liabilities perbankan dari yang riba menjadi transaksi dagang. Semua nasabahnya harus disiapkan. Di sinilah pentingnya ngaji muamalah untuk nasabah.

Hal terpenting adalah kesiapan teknologi dari sisi Core Banking System (CBS). CBS adalah jantungnya bank yang menata parameter serta memastikan kesyariahan bank syariah secara sistem.

Tak perlu belanja teknologi CBS karena sudah ada yang existing, namun perlu effort khusus untuk mensyariahkan CBS yang sudah ada. Tidak mudah, namun harus dilakukan. Di sinilah pentingnya ngaji muamalah buat praktisi, agar mereka siap bikin setting parameter IT dan seluruh komponen terkait.

Infrastruktur terpenting berikutnya adalah regulasi. Kesiapan regulasi ini sangat urgen untuk mendukung pelaksanaan konversi.

Saat ini, regulasi sudah memungkinkan untuk bank konven melakukan konversi ke syariah. Namun, harus ada gerakan politik di tingkat eksekutif dan legislatif dalam ranga memuluskan jalannya konversi.

Di sinilah pentingnya kita ajak para politisi untuk ngaji muamalah agar kita semua saling sadar bahwa suatu keuntungan bisa diperoleh dengan wajar melalui transaksi dagang, bukan melalui transaksi riba.

Ketiga, doa dan tawakkal. Doa adalah senjatanya orang mukmin. Suksesnya hidup bisa dicapai dengan doa.

Sementara tawakkal adalah mewakalahkan semua urusan kepada Allah. Objek wakalahnya adalah doa dan ikhtiar.

Allah berjanji bahwa ketika kita tawakkal, maka Allah akan mencukupi. Tentu saja saya ulang bahwa tawakkal itu didahului dengan doa dan ikhtiar.

Demikian 3 langkah strategis dalam rangka mencapai konversi bank konvensional menjadi bank syariah, bank yang keuntungannya diperoleh dengan cara berdagang. Semoga terwujud dengan mudah, lancar dan barakah. Amin.

Oleh: Ahmad Ifham Sholihin